Yuli Astuti Pengusaha Batik Asal Kudus

0 40

Yuli Astuti Pengusaha Batik Asal Kudus

Pada awalnya Yuli Astuti belum begitu tertarik soal dunia batik. Namun, saat mengikuti pelatihan di Rembang ia tertarik mempelajari batik, khususnya Batik Kudus. Bahkan, ia telah mengeluarkan kocek pribadi puluhan juta rupiah untuk meneliti dan mengembangkan Bati Kudus. Yuli merupakan salah satu warga RT 04/RW 02 Desa Karang Malang, Kecamatan Gebog itu, mencoba melestarikan kejayaan batik dengan membuat Motif Kapal Kandas. Itu dilakukan agar sejarah peradapan Kudus tidak hilang di telan zaman atas kejayaannya Industri Batik.

Batik di Kudus keberadaannya sempat tenggelam, untuk itu ia termotivasi untuk mengeksiskan lagi batik di kota Kretek. Untuk bisa membuat batik kwalitasnya bagus, dirinya harus meluangkan waktu, tenaga dan pikiran berkunjung ke Pekalongam, Solo dan Jogjakarta untuk memgetahui berbagai jenis batik.

Karena pihaknya tak paham tentang batik, teknik pembuatannya, apalagi tentang sejarah batik Kudus. Dalam perburuannya selama kurang lebih dua tahun, ia juga harus rela merogoh kocek hingga Rp. 60 juta, diantaranya untuk membeli Batik Kudus dari seorang kolektor. Yuli harus menapak tilas kejayaan batik Kudus dari berbagai sumber. Setelah lama mencari akhirnya ia menemukan sosok wanita yang hingga sekarang masih membatik dengan motif  khas Kudus di daerah Kaliwungu. Bu Niamah merupakan satu-satunya orang Kudus yang masih membatik di usianya yang telah renta. Beliaulah yang mengajari saya tentang dasar dan teknik membatik serta menunjukkan motif Kapal Kandas yang terkenal itu.

Kudus dulunya memiliki banyak budaya yang dikenal secara nasional. Salah satunya kain batik dengan Motif Kapal Kandas. Batik Kudus mengalami kejayaannya di tahun 1930an dengan berbagi motif yang didominasi corak pesisir berwarna-warni dan akulturasi kebudayaan China. Tak hanya itu, motif kaligrafi dan kebudayaan Islam juga mengilhami pembuatan batik karena pengaruh para wali yang menyebarkan agama di Kudus.

Sebelum Pekalongan dikenal sebagai kota batik, Kudus lebih dulu dikenal sebagai pelopor batik di Jawa Tengah selain Solo. Bahkan para perajin di Pekalongan dulu banyak memuat motif khas Kudus untuk diproduksi. Baru di akhir 1970an batik Kudus mengalami penurunan karena banyak masyarakat yang memilih menjadi pengusaha rokok kretek, bahkan di 1990an hingga tahun 2000an batik sama sekali tak dikenal. Kerja kerasnya selama kurun waktu enam tahun ini akhirnya Batik Kudus kembali dikenal. Tidak hanya di kancah nasional namun juga banyak diburuoleh kolektor luar negeri. Usaha kerasnya yang harus menggali sendiri literasi dan sejarah tentang batik Kudus sekarang membuahkan hasil.

Dalam membuat Batik Kudus ia tak melupakan Kapal Kandas, namun ia juga mengeksplorasi berbagai macam motif lain yang ia ciptakan sendiri dengan mengambil inspirasi dari hasil alam di Kudus, seperti Pari Jotho, BerasKecer dan Pakis Haji. Dalam memproduksi batik, Yuli dibantu 14 karyawan yang ia bina dari nol. 7 karyawan bekerja di galerinya dan 7 lainnya memproduksi dirumah mereka masing-masing. Berbagai pameran tingkat nasional diikuti demi mengenalkan kembali batik Kudus. berbagai galeri di Ibu Kota pun memajang karya batiknya, di antaranya di Tebet dan Menteng. Untuk menjaga agar tidak dilupakan lagi, Yuli menggandeng berbagai unsur masyarakat di Kudus, diantaranya pemerintah, perusahaan dan juga para siswa. Targetnya tidak muluk-muluk hingga menjadikan batik Kudus untuk masuk dalam muatan lokal mata pelajaran di sekolah, hanya mendapat apresiasi dari masyarakat pun ia sudah merasa senang.

Source http://www.lingkarjateng.com/ http://www.lingkarjateng.com/2018/01/02/mengenal-yuli-astuti-pengusaha-batik-asal-kudus/
Comments
Loading...