Yogyakarta Bertekad Tingkatkan Pewarna Alam untuk Produksi Batik

0 31

Kota Yogyakarta bertekad mengintensifkan penggunaan pewarna alam untuk menghasilkan batik yang ramah lingkungan. Hal itu juga dimaksudkan untuk mempertahankan predikat Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Konsultan Batik Pewarna Alam Hendri Suprapto mengatakan tahun ini adalah tahun terakhir penilaian dari World Craft Council (WCC) terkait predikat Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Predikat itu jangan sampai lepas.

Hendri mewanti-wanti penggunaan pewarna alam untuk menghasilkan batik yang ramah lingkungan menjadi salah satu indikator penilaian dari WCC. Lagipula, penggunaan pewarna kimia untuk batik akan berdampak buruk terhadap lingkungan. Bahkan bisa mempengaruhi kesehatan manusia. “Banyak bahan yang ada di sekitar masyarakat yang bisa digunakan sebagai sumber pewarna alam untuk menghasilkan batik berkualitas.

Sejumlah tanaman yang bisa diolah untuk menghasilkan pewarna alam di antaranya, pohon mangga untuk warna kuning, pohon indigofera untuk warna biru, pohon jambu biji untuk warna coklat, jambe untuk warna merah. Sedangkan untuk menghasilkan warna lain, tinggal mengombinasikan warna-warna dasar yang sudah ada itu.

Pelatihan batik tulis di Embung Langensari terselenggara berkat kerja sama antara Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta. Seluruh peserta pelatihan adalah warga di sekitar embung.

UKDW dan Bappeda Kota Yogyakarta sudah melakukan penelitian untuk mengembangkan embung tersebut sebagai eco culture tourism atau wisata budaya berwawasan lingkungan.

Ketua Peneliti UKDW Kristian Oentoro mengatakan dengan pelatihan selama tiga hari itu warga bisa mengembangkan kemampuan untuk menghasilkan batik ramah lingkungan. Embung Langensari juga bisa dijadikan sebagai tempat pembelajaran atau workshop batik tulis pewarna alam. Harapannya, keberadaan embung bisa memberikan dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Comments
Loading...