Yogya Ajak Wujudkan Batik Indonesia Jadi Primadona Dunia

0 40

Yogya Ajak Wujudkan Batik Indonesia Jadi Primadona Dunia

Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia mengajak seluruh kota batik baik di dalam maupun luar Pulau Jawa bersama-sama menghadapi dan menjadikan Batik Indonesia sebagai primadona dunia. Selain itu, masyarakat pembatik di seluruh nusantara diharapkan kembali menggunakan pewarna alam agar tidak mencemari lingkungan. 

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) DIY GKR Hemas dalam Roadshow Yogya Kota Batik Dunia dan Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2018 di Pasar Batik Tradisional Pamekasan, Minggu (5/8/2018). Roadshow tersebut juga diikuti Wakil Ketua Dekranasda DIY, GKBRAA Paku Alam, Ketua Dekranasda Kota Yogyakarta Tri Kirana Muslidatun, Ketua Dekranasda Bantul Erna Kusumawati Suharsono, Wakil Ketua Dekranasda Gunungkidul Zultiyanti, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Kepala Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik Isananto Winursito, pemerhati batik Laretna Trisnantari Adishakti dan lain-lain. 

GKR Hemas mengatakan pihaknya ingin mengajak beberapa daerah, baik dalam maupun di luar Jawa bersama-sama menghadapi batik menjadi primadona dunia. Dekranasda DIY sekaligus mengajak daerah-daerah lainnya untuk menjaga lingkungan atau limbah yang kini tengah disoroti negara-negara asing. “Limbah itu mempengaruhi kehidupan atau pencemaran lingkungan dan mengakibatkan banyak sekali hal-hal yang berakibat penyakit. Kita tahu batik sekarang sudah tidak mengunakan zat pewarna alam tetapi zat kimia, jadi kita akan mengurangi dan ajak pembatik mulai mengurangi zat kimia,” ujarnya.

Istri Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono ini menjelaskan berbagai motif batik yang ada dibeberapa daerah mempunyai karakternya berbeda-beda sehingga bisa menjadi unggulan batik Indonesia di mata dunia. Batik Indonesia itu sangat beragam dan indah, hal inilah yang akan diperkenalkan kepada dunia dan tonjolkan dalam ajang JIBB di Yogyakarta pada Oktober 2018. “Kita punya batik yang unik dengan berbagai karakter yang sangat kaya dan beranekaragaman. Justru itulah harus kita pelihara, tingkatkan kualitas dan kembangkan bersama-sama untuk di bawa ke dunia” tandas Permaisuri Raja Kraton Yogyakarta tersebut.

Anggota PPBI Sekar Jagad Yogyakarta Apip Syakur menuturkan memasuki tahun keempat sejak Yogyakarta mendapatkan pengakuan Yogya Kota Batik Dunia oleh World Craft Council akan ada penilain ulang. Penilaian ulang tersebut perlu diajungi jempul dan penghargaan terhadap GKR Hemas yang memutuskan untuk roadshow ke sejumlah kota-kota batik di Jawa. “Yogya Kota Batik Dunia bukan hanya milik Yogyakarta tetapi milik bangsa Indonesia. Roadshow ini merupakan wujud dari niat tulus GKR Hemas untuk menata suatu produk batik yang notabene bukan hanya sekedar komoditas budaya tetapi sebagai karya bangsa,” tandas Apip Syakur.

Apip justru berharap kesiapan sepenuhnya dari masyarakat batik Yogyakarta tidak hanya sebagai Kota Batik Dunia namun sekaligus pintu gerbang batik dunia. Roadshow ini sekaligus sebagai upaya menggerakkan langkah bersama, meskipun tidak mudah agar kedudukan batik dimata dunia semakin diakui. Kraton Yogyakarta yang selama ini menjaga kelestarian batik tetap terbuka dan teknologinya berkembang.

“Yogyakarta sebagai leader perbatikan di Indonesia sudah diakui oleh kota-kota batik lainnya. Maka kedepan diharapkan,  Yogyakarta ini bisa mencerminkan suatu rumusan baru bahwa batik bisa mendunia dengan tetap mempertahankan tradisionalitasnya dan timbul bentuk-bentuk baru sehingga warna batik menuju globalisasi,” imbuhnya. 

Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik Isananto Winursito mempunyai gagasan besar agar pembatik kembali menggunakan zat warna alam dengan memperhatikan aspek lingkungan. Meskipun zat warna alam terkesan ‘mbludus’ tetap nanti tergantung pada pasar atau konsumen mengendaki seperti apa. Sayangnya masyarakat sudah termanjakan dengan batik warna sintetik, maka perlu upaya untuk mengembalikan batik ke warna alam. 

“Jika konsumen yang sadar lingkungan, mereka lebih banyak minta batik warna alam. Kami mencoba menggali kembali potensi zat warna alam yang ada sebagai bahan dasar pembuat zat warna alam tersebut. Masih banyak memang yang terpesona batik yang menggunakan warna sintetik karena mudah di dapat dan harganya murah serta mudah penggunaan,” pungkas Isananto. 

Source http://www.krjogja.com/ http://www.krjogja.com/web/news/read/73894/Yogya_Ajak_Wujudkan_Batik_Indonesia_Jadi_Primadona_Dunia
Comments
Loading...