Usaha Batik Gunungkidul Seret

0 117

Usaha Batik Gunungkidul Seret

Salah satu perajin batik Dwi Lestari mengatakan usaha batik tulis yang dia tekuni merupakan usaha dengan skala kecil. Dia mengaku belum bisa memproduksi batik tulis dalam jumlah banyak. Kendala utama yang dia rasakan yakni kesulitan mendapatkan modal. “Saya ibu rumah tangga biasa. Saya mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk membeli bahan dasar membuat batik tulis,” ungkap dia. Karena belum memiliki modal yang besar, Dwi mengaku belum berani mempromosikan batik hasil karyanya secara luas. Pasalnya, jika promosi berhasil sedangkan ia tidak memiliki bahan dasar untuk membuat batik, ia khawatir tidak bisa memenuhi keinginan pasar. Minimal Rp. 500.000 bisa untuk membuat tiga potong batik tulis.

Selama ini Dwi mempromosikan produknya dengan cara online, menawarkan ke perangkat desa, dan pejabat di Gunungkidul. Harapannya, batik dari Kepek juga ikut dikembangkan. Setiap desa pasti memiliki motif batik yang unik. Jangan hanya motif dari satu daerah saja yang dikembangkan. Harus merata seluruh wilayah Gunungkidul. Sebagai perajin batik tulis, Dwi membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk menyelesaikan satu kain batik. Ia mengerjakan sendiri dengan modal Rp. 200.000. Hasil karyanya pun ia jual dengan harga Rp. 350.000. Harga tersebut bisa berubah-ubah sesuai dengan tingkat kerumitan motif.

Perajin batik lainnya, Guntur Susilo mengatakan mulai mengembangkan produk batik gendhis sejak akhir 2011. Usaha yang ia rintis bersama teman-temannya berawal dari keprihatinan. Ia ingin agar masyarakat terutama anak muda familiar dengan batik dan merasa memiliki warisan budaya tersebut. Hasil tersebut ia jual dengan harga mulai dari Rp. 150.000 hingga Rp. 350.000. Saat ini dia baru melayani pesanan melalui relasi, teman, maupun media online. Ia mengakui pemasaran tidak menjadi kendala utama.

Source http://www.solopos.com/ http://www.solopos.com/2014/11/08/usaha-batik-gunungkidul-seret-ini-penyebabnya-550555
Comments
Loading...