Upaya Mariana Mengangkat Batik Ponorogo

0 288

Upaya Mariana Mengangkat Batik Ponorogo

Selembar batik bukanlah hal yang sulit bagi Mariana seorang ibu yang mewarisi keahlian tersebut secara turun-temurun sejak kecil. Bagi perempuan yang bergiat di sentra batik di Jalan Semeru, Kabupaten Ponorogo, Jatim, itu, membatik merupakan bagian dari hidup dan sumber mata pencahariannya. Beliau mendirikan kelompok pengrajin batik pada awal 1980-an. Dalam kurun waktu itu, sedikitnya sudah 25 motif batik asli Ponorogo beliau ciptakan.

Batik Ponorogo terkenal dengan motif meraknya yang diilhami dari kesenian reog yang menjadi ikon di daerah ini. Sedikitnya sudah ada 25 motif batik yang saya ciptakan untuk menjadi motif asli, di samping batik motif Jawa yang dikenal pada umumnya. Dari 25 motif yang ia ciptakan, yang menjadi andalan adalah Motif Merak Tarung, Merak Romantis, Sekar Jagad, dan Batik Reog. Namun, pihaknya juga menerima pembuatan batik tulis yang motifnya sesuai dengan keinginan pembeli. “Biasanya ada juga pembeli yang menginginkan motif tertentu. Maka, saya tinggal membuat desainnya untuk kemudian digambarkan ke kain. Namun, biasanya tidak jauh dari Motif khas Batik Ponorogo,” kata Mariana.

Untuk mengikuti perkembangan, pihaknya tidak hanya membuat batik tulis, namun juga batik cetak. Dalam kesehariannya membatik, jumlah itu masih ditambah dengan anggota kelompok pengrajin batik besutannya yang berjumlah hingga 10 orang. Merasa kurang beruntung, akhirnya Mariana memutuskan untuk mengubah nama kelompok itu menjadi Kelompok Kerajinan Batik Sofi, yang diambilkan dari nama salah satu putrinya. Meski demikian, secara keseluruhan perkembangan batik Ponorogo masih jauh dari harapan.

Kendala terbesar yang dihadapi saat mengembangkan Batik Ponorogo, selain kurang modal dan promosi, adalah maraknya pembajakan atau penjiplakan motif asli yang menjadi ciri khas untuk kepentingan komersial. Kata Mariana, pengakuan batik sebagai salah satu warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia oleh UNESCO, membawa harapan baru bagi para pembatik di Ponorogo. Para pembatik merasa memiliki kekuatan baru. Dengan adanya penetapan dari UNESCO, Mariana berharap, ada tindak lanjut dari pemerintah daerah, seperti memberikan kesempatan dan penghargaan bagi para seniman dan perajin batik. Sehingga penetapan tersebut tidak hanya sekadar pengesahan tanda milik, namun lebih cenderung untuk melindungi tradisi membuat batik. Salah satu hal yang masih menjadi ancaman saat ini adalah penjiplakan motif. Modusnya, rancangan batik tulis dari salah satu pengrajin atau seniman batik langsung dijiplak oleh produsen batik pabrikan atau “printing”.

Hal ini yang seharusnya menjadi acuan pemda setempat. Diharapkan ada langkah pencegahan penjiplakan seni batik. Sehingga, motif khas batik suatu daerah dipatenkan dan diakui hak ciptanya untuk tidak ditiru demi kepentingan komersial semata. Belum diakuinya hak cipta dan sulitnya proses pembuatan batik yang memerlukan beberapa hari, membuat Batik Ponorogo sulit melakukan regenerasi. Kalangan generasi muda enggan menekuni seni membatik, karena rumitnya proses pembuatan yang tidak ditunjang dengan hasil yang diterima. Guna meningkatkan keahlian dan kreativitas, pemerintah daerah juga terus melakukan pelatihan dan pembinaan bagi pembatik Ponorogo. Diharapkan dengan pembinaan ini, pembatik Ponorogo akan menciptakan Batik khas Ponorogo lainnya yang diminati pasar.

Source Upaya Mariana Mengangkat Batik Ponorogo Batik
Comments
Loading...