Upaya Batik Fractal menembus Silicon Valley

0 31

Upaya Batik Fractal menembus Silicon Valley

Nancy Pandjaitan dan Yun Hariadi sedang menemani Muhamad Lukman mengerjakan tesis. Lukman kemudian iseng mendesain bunga di laptopnya. Desain bunga tersebut menurut Nancy mirip motif batik. Yun lantas meriset 300 motif batik Indonesia. Untuk dapat menggambar beragam motif tersebut dibuat sebuah perangkat lunak bernama jBatik.

Sepenggal kisah dari tiga alumni Institut Teknologi Bandung tersebut terjadi pada akhir 2006. Momen yang merupakan awal mula tercetusnya jBatik. Satu-satunya perusahaan rintisan (startup) asal Indonesia yang terpilih sebagai semifinalis dalam perhelatan Global Innovation through Science and Technology (GIST) Entrepreneur Competition 2016.

Dalam rilis pers yang diterima Beritagar.id, perangkat lunak untuk membuat desain Batik Fractal itu dapat membuat proses desain motif batik menjadi lebih cepat, mudah, dan menghasilkan variasi desain dengan jumlah tidak terbatas.

Fractal merupakan cabang ilmu matematika yang berfokus pada pengulangan, dimensi, literasi, dan pecahan. Semua motif batik pasti mengandung unsur ini.

Pun demikian proses mencetak batik tetap dilakukan dengan cara tradisional. Setelah pola desain jadi, dijiplak di atas kain, dicap atau dicanting, dan melalui proses pewarnaan seperti biasa. Perpaduan tersebut membuat budaya tradisi membatik yang sudah ada sejak ratusan tahun tidak lantas mati dengan munculnya teknologi ini.

Meskipun awalnya sempat mendapat sejumlah protes dari para juragan batik tradisional karena dianggap menumpang ketenaran batik dan mengancam pengrajin batik tradisional, Nancy pantang menyerah.

Tidak sekadar keliling Indonesia mengenalkan jBatik kepada para pengrajin tradisional dan cara penggunaannya, tapi juga menjelaskan posisi Batik Fractal dalam bidang kajian batik secara luas.

Usaha tersebut telah membuahkan hasil. Sejak resmi memasuki bisnis batik pada 2009, pelan tapi pasti para pengrajin batik sudah mulai membuka diri. Bahkan produk mereka juga telah menyebar ke Australia, Inggris, dan Swiss.

“Bangga juga bisa membawa nama Indonesia. Terlebih Batik Fractal termasuk kategori seni yang dibuat dengan sistem matematika,” kata Nancy.

Nancy kepada Femina mengungkapkan bahwa pengguna piranti lunak jBatik saat ini sudah mencapai 1700 perajin di sentra-sentra batik di Indonesia. “Pengguna jBatik adalah para pembatik tradisional yang punya sudah memiliki komputer desktop. Dan jumlah mereka masih terbatas.”

Untuk menggalang bantuan dan dana investasi dari investor global, sekaligus mempromosikan karya teknologi anak bangsa dan budaya Indonesia pada kancah internasional, Nancy mengikutkan jBatik dalam acara GIST Competition 2016 yang didanai pemerintah Amerika Serikat.

Natali Ardianto dengan Tiket.com-nya pada penyelenggaraan tahun 2012 yang berlangsung di Dubai, Uni Emirat Arab, berhasil terpilih sebagai pemenang pertama. Keberhasilan tersebut adalah perdana bagi startup Indonesia sekaligus satu-satunya sejak GIST Competition berlangsung mulai 2011.

Menyulap Matematika menjadi Inovasi Batik Nusantara #untukIndonesia /Good News From Indonesia
Saat ini GIST Competition 2016 telah memasuki fase semifinal. Di kategori perusahaan rintisan, jBatik bersaing dengan 51 produk lain dari berbagai negara. Jika berhasil masuk sebagai 15 finalis, Nancy dan kawan-kawan akan dikirim ke Silicon Valley, California, AS.

Agar bisa menembus babak final, selain akan dinilai oleh para juri berpengalaman dalam hal teknis, ilmuwan, pengusaha, dan investor, juga diadakan voting yang berlangsung hingga 1 Mei 2016 di situs GIST Network. Porsi penilaian berdasarkan voting bernilai besar di mata para juri.

Jika jBatik adalah satu-satunya wakil Indonesia di kategori perusahaan rintisan, ada tiga semifinalis lagi asal tanah air yang berada di kategori “Idea Phase”. Mereka adalah Hendriyadi Bahtiar Daeng Sila, Ridwan Wicaksono, dan Musawwir Muhtar.

Semua nama dapat dipilih, tapi dengan rentang 24 jam sekali. Karena panitia membatasi pemilihan hanya satu kandidat untuk satu hari.

Para finalis, dikutip startupbisnis.com, akan mendapatkan pelatihan keterampilan intensif, bimbingan, dan akses jaringan ke para pemimpin global di bidangnya masing-masing. Semua finalis juga akan mendapatkan mentoring hingga tiga bulan. Selain itu, finalis yang berkompetisi akan mendapatkan pendanaan masing-masing USD15 ribu (Rp 198 juta).

“Jika kami memenangi GIST Competition, ada kesempatan untuk menggali perspektif tentang teknologi dan trennya di masa depan dalam proses mentorship dan bootcamp dengan para teknopreneur di pusat bisnis teknologi dunia,” pungkas Nancy.

Source https://beritagar.id https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/upaya-batik-fractal-menembus-silicon-valley
Comments
Loading...