Tulisan Batik Gagrak Surakarta dan Gagrak Yogyakarta

0 189

Tulisan Batik Gagrak Surakarta dan Gagrak Yogyakarta

Ragam hias pada batik prinsipnya terdiri dari bentuk ornamen geometrik, flora dan fauna, atau gabungan dari ornamen-ornamen tersebut. Selain itu motif pada batik juga bisa dibedakan atas dasar aspek wilayah budaya yang menghasilkan gaya, corak, atau gagrak. Oleh karena itu, ada batik gaya Yogyakarta, batik gaya Surakarta, batik gaya pesisiran yang terdiri dari batik Pekalongan, Lasem, Madura dan sebagainya. Lahirnya Batik Gagrak Yogyakarta dan Gagrak Surakarta diakibatkan terjadinya peristiwa politik yang akhinya berpengaruh pada aspek-aspek budaya yang membedakan antara cin-ciri Yogyakarta dan Surakarta sebagai sumber atau pusat aktivitas budaya. Peristiwa poiitik dimaksud adalah Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755.

Perjanjian Giyanti ini memecah Kerajaan Mataram menjadi dua, yakni di sebelah timur Kali Opak (melintasi daerah Prambanan sekarang) dikuasai oleh pewaris takhta Mataram (yaitu Sri Susuhunan Pakubuwana III) dan tetap berkedudukan di Surakarta, sementara Wilayah di sebelah barat (daerah Mataram yang asli) diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi sekaligus ia diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwana I yang berkedudukan di Yogyakarta.

Perpecahan wilayah tersebut berkelanjutan pada pembagiaan harta kerajaan yang berupa pusaka, gamelan, kereta tunggangan, dan tandu, yang dibagi menjadi dua bagian. Namun busana Keraton Mataram seutuhnya diboyong oleh Kanjeng Pangeran Mangkubumi ke Yogyakarta. Mengingat sebelum terjadinya perpecahan dan ketika Paku Buwana III belum menjadi Raja, Paku Buwana II (ayah Paku Buwana III) pemah berwasiat “mbesuk manawa pamanmu Mangkubumi hangersakake ageman, paringno” artinya “apabila kelak pamanmu Mangkubumi menghendaki busana, berikan saja”

Dari perpecahan tersebut, seluruh busana (batik) keraton dibawa langsung ke Yogyakarta. Sejak perpecahan itulah Keraton Mataram Surakarta tidak mempunyai corak busana khas Keraton. Dari sinilah kemudian Paku Buwono III memerintahkan untuk membuat motif-motif batik Keraton Mataram Surakarta. Motif-motif ini selanjutnya disebut sebagai Batik Gagrak Surakarta, sementara batik-batik Mataram yang dibawa ke Yogya dan dikembangkan di sana disebut sebagai Batik Mataram murni atau Yogyakarta.

Source http://pabrikbatik.com/ http://pabrikbatik.com/2017/02/03/batik-gagrak-surakarta-dan-gagrak-yogyakarta/
Comments
Loading...