Tom Batik Kulon Progo, Konsisten Menggunakan Pewarna Batik Alami

0 41

Tom Batik Kulon Progo, Konsisten Menggunakan Pewarna Batik Alami

Dalam sejarahnya nenek moyang masyarakat Indonesia menggunakan bagian tumbuh-tumbuhan sebagai pewarna pada kerajinan batik. Bagian tumbuhan yang digunakan diantaranya adalah kayu, kulit kayu, buah, kulit buah, kulit akar, daun dan bunga.

Namun, untuk mendapatkan zat warna tersebut melalui proses yang sulit dan memakan waktu yang lama. Seiring dengan perkembangan zaman munculnya pewarna sintetis yang proses penggunaannya lebih praktis dibandingkan dengan pewarna alami.

Para pengrajin batik beralih menggunakan pewarna ini. Selain penggunaannya yang relatif mudah, warna yang dihasilkan juga lebih terang dibandingkan dengan pewarna alami. Batik dengan pewarna alami kelihatan lebih kusam. Tetapi pewarna alami mempunyai sifat dan warna yang khas yaitu warna yang dihasilkan tidak bisa ditiru oleh pewarna sintetis.

Keunikan ini yang membuat batik pewarna alami bernilai seni tinggi dan kelihatan lebih elegan serta lebih lembut. Disamping itu, pewarna alami lebih aman bagi kesehatan pembuat, pemakai dan limbahnya yang ramah lingkungan. Salah satu yang memproduksi pewarna alami dan batik pewarna alami, hingga saat ini adalah Pak Widodo dengan nama usahanya adalah Tom Batik.

Tom Batik berada didaerah Kulon Progo, tepatnya di jalan Kenteng 7 Banaran Galur Rt.25/13, Kab. Kulon Progo. Letaknya dari arah kota Yogyakarta dapat melalui Jalan Bantul. Lalu menuju ke arah barat Jalan Srandakan sampai menemui pertigaan keararah Pantai Trisik.

Pak Widodo merintis usahanya di tahun 2000. Usaha ini pada awalnya hanya menyediakan pewarna alami yang dikemas dalam bentuk pasta, kini telah berkembang menjadi produk batik dengan warna alami. Awal menekuni pewarna batik alami.

Pak Widodo waktunya banyak digunakan untuk selalu mencari indigo sejenis tanaman perdu yang memiliki zat pewarna alamiah. Tanaman indigo oleh nenek moyang disebut dengan ”tom” tumbuh liar di tepi-tepi jalan, pekarangan maupun tanggul-tanggul sawah.

Berkat usaha kerasnya Tom Batik mulai dikenal serta berhasil menembus pasar dengan strategi masuk ke beberapa hotel berbintang sebagai pengisi stand pajang. Strategi ini efektif menyita perhatian turis domestik maupun asing yang menginap dihotel tersebut untuk membeli ataupun mengkoleksi produk Tom Batik.

Tanaman indigo yang berbahasa latin indigofera tinctoria adalah tanaman perdu yang mudah tumbuh dan menghasilkan warna biru. Konon jaman dahulu cerita si mbah-mbah, didaerah Kulon Progo tanaman ini di budidayakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk digunakan sebagai pewarna.

Indigo ini ditanam dalam ladang yang luas oleh para pekerja pribumi Indonesia namun tidak mendapatkan upah sepeserpun atau lebih dikenal sebagai kerja paksa zaman kolonial belanda” cerita Pak Widodo. Saat ini Pak Widodo tidak terbatas memakai tanaman indigo saja untuk menghasilkan pewarna alami.

Namun menggunakan beberapa jenis tanaman diantaranya seperti kulit mahoni (swietenia mahagoni) yang menghasilkan warna coklat, kulit buah jelawe/joho (terminalia belerica) menghasilkan warna kuning. Ketiga warna ini merupakan bagian penting dalam pewarnaan batiknya.

Karena ketiga warna ini bisa dikombinasikan satu dengan lainnya dan banyak menghasilkan warna-warna lain, berkat percampuran warna yang dapat dilakukan. Ia sampai sekarang masih melakukan uji coba/eksperimen dengan bahan-bahan lain yang memungkinkan menghasilkan warna untuk pewarna batik alami.

Dalam menjalankan usahanya Pak Widodo tetap berbagi ilmu kepada pengrajin lain tentang pewarna batik alami. Salah satunya memberikan pembinaan kepada para pengrajin di Imogiri dan para penyandang Disabilitas. Untuk proses membatik hampir sama dengan proses pembuat batik pada umumnya.

Sedangkan pembuatan pewarna batik alami yang memerlukan perhatian khusus, misalnya tanaman indigo yang akan menghasilkan warna biru. Proses pengambilan warna dari bahan warna dengan dilakukan dengan cara fermentasi tersebut selama 12 sampai 18 jam, tergantung dari banyaknya.

Sedangkan untuk kulit kayu mahoni dengan cara ekstraksi/perebusan. Warna yang dihasilkan belum tentu sesuai dan sama tiap produksinya. Misalnya warna biru yang dihasilkan di tiap daerah tanam dan usia tanam bisa menghasilkan warna yang berbeda.

Source http://ulinulin.com/ http://ulinulin.com/posts/tom-batik-kulon-progo-tetap-konsisten-menggunakan-pewarna-batik-alami
Comments
Loading...