Teknik Pembuatan Batik Parang Rusak

0 1.398

Teknik Pembuatan Batik Parang Rusak

Batik Parang Rusak diciptakan oleh Panembahan Senopati ketika beliau bertapa di Pantai Selatan. Pola dalam kain terpiransi dari deburan ombak di pinggir pantai. Ombak yang terus-menerus menghantam tebing dan karang. Tanpa mengenal rasa lelah. Pola ombak ini melambangkan usaha manusia guna melawan kehatan. Bagaimana menahan serta mengendalikan hawa nafsu mereka. Sehingga dapat menjadikan mereka sebagai manusia bijaksana.

Berikut langkah-langkah pembuatan Batik Parang Rusak :

  • Pemilihan Kain

Langkah pertama dalam pebuatan batik adalah memilih jenis kain. Sutra sangat cocok apabila tujuan pembuatan untuk acara-acara spesial. Jika hanya untuk digunakan sebagai pakaian sehari-hari, katun adalah pilihan yang biasa digunakan.

  • Pencucian Kain

Tahap selanjutnya ialah pencucian. Minyak camplong dengan campuran soda biasa digunakan untuk mecuci kain. Fungsinya, kain dapat menyerap warna secara maksimal juga membuatnya tidak mudah luntur.

  • Pelorotan

Setelah dicuci menggunakan miyak camplong dan soda, kain kemudian akan dicelup ke dalam air panas. Kemudian, dijemur selama beberapa menit guna menghilangkan zat penguat sebelumnya.

  • Penggambaran Pola

Pada tahap ini, kain mulai digambari pola. Pola-pola tersebut biasanya digambar terlebih dahulu di atas kertas roti. Baru kemudian dijiplak pada permukaan kain. Namun bisa juga langsung digambar pada permukaan kain menggunakan pensil atau canting.

  • Pembatikan

Pada proses ini, lilin malam akan mulai digambarkan pada kain menggunakan canting. Proses ini biasanya dimulai dengan nglowong (menggambar garis luar pola dan isen-isen). Pada proses isen-isen terdapat istilah nyecek yaitu membuat isian dalam pola yang sudah dibuat. Misalnya titik-titik. Ada pula istilah nruntum dimana prosesnya hampir menyerupai isen-isen namun dengan tingkat kerumitan lebih tinggi.

  • Nembok

Nembok merupakan proses menutupi bagian-bagian kain yang tidak ingin diwarnai atau ingin diberi warna lain. Bagian tertutup tersebut, nantinya tidak akan bisa menyerap warna ketika proses pewarnaan. Oleh karena itu disebut nembok, karena seakan-akan berfungsi sebagai penahan.

  • Pencelupan atau Pewarnaan

Barulah kain dapat mulai diwarnai dengan mencelupkannya ke dalam cairan pewarna. Proses ini dilakukan berulang-ulang hingga mendapatkan warna yang diinginkan. Tak jarang pengrajin harus melakukan lebih dari tiga kali pencelupan.

  • Pencucian

Apabila proses pewarnaan selesai, maka tahapan selanjutnya ialah pencucian akhir. Dimana kain akan direbus menggunkan air panas untuk melunturkan sisa-sisa lilin malam.

  • Penjemuran

Tibalah pada tahapan terakhir yaitu penjemuran atau pengeringan. Pada proses ini, batik tidak dijemur di bawah sinar matahari langsung. Namun dijemur di tempat teduh dan hanya diangin-anginkan saja.

Source https://qlapa.com/ https://qlapa.com/blog/batik-parang-ragam-jenis-asal-usul
Comments
Loading...