Teknik Membatik Pada Kain Non Katun

0 133

Teknik Membatik Pada Kain Non Katun

Dunia industri desain fashion, batik selama ini dikenal sebagai salah satu kesenian sekaligus bukti peninggalan sejarah budaya yang berasal dari bangsa Indonesia yang telah hidup dan berkembang selama berabad-abad lamanya. Berbeda dengan zaman dahulu, perkembangan batik saat ini umumnya jauh lebih bervariasi baik dari segi motif, warna, dan bahan dasar yang digunakan. Terbukti sejauh ini para pengrajin batik juga mulai mengembangkan teknik membatik pada kain non katun seperti kain serat sintetis polyester yang mempunyai sifat tahan kusut, tahan asam, tahan terhadap reaksi kimia, tahan terhadap jamur dan mempunyai daya serap terhadap air yang lemah.

Tidak seperti batik dengan menggunakan kain katun, batik yang menggunakan kain polyester umumnya dibuat dengan menggunakan malam dingin yang dikenal dengan nama bubur alginat, artinya cara penggunaan malamnya harus dalam keadaan dingin. Alginat sendiri merupakan bahan yang diperlukan untuk mengantarkan zat warna kain supaya bisa dicapkan sesuai corak yang dikehendaki. Bahan ini terbuat dari rumput laut yang dicampur dengan bahan lain, sehingga sangat lengket dan cukup baik jika digunakan untuk perintang warna pada semua jenis kain terutama untuk jenis kain polyester.

Pembuatan bubur alginat dilakukan dengan cara menaburkan bubuk alginat kedalam air sambil diaduk secara merata sampai diperoleh tingkat kekentalan tertentu. Bubur alginat mempunyai sifat yang sangat lengket, tidak mudah retak, lentur dan daya rekat yang sangat kuat sehingga dapat melekat pada kain dengan baik, selain dengan menggunakan alignat, hal lain yang membedakan batik kain katun dengan batik polyester yaitu berupa zat warna yang digunakan. Zat warna yang bagus untuk membuat batik poliester yaitu berupa zat warna dispersi yang diciptakan khusus untuk bahan tekstil yang terbuat dari serat buatan, terutama serat polyester dan serat asetat rayon.

Zat warna dispersi yang digunakan dalam proses pewarnaan serat polyester (tetoron) merupakan zat warna yang sedikit larut dalam air. Zat warna ini pada umumnya mempunyai banyak pilihan warna, mulai dari warna merah, kuning, biru, hijau, coklat, violet, dan pink. Untuk memperoleh warna yang diinginkan zat warna tersebut bisa dicampur. Bubur alginat dikenal sangat tahan terhadap panas namun sebenarnya bubur ini hanya tahan terhadap uap panas dan tidak tahan terhadap air. Karena itulah penggunaan bubur alginat mutlak digunakan saat proses fiksasi.

Fiksasi adalah proses pemanasan dengan uap air (steaming), panas tinggi (high temperature), oven maupun setrika untuk mengunci zat warna dispersi. Selama proses fiksasi berlangsung pemanasan harus dilakukan pada suhu 100°C dan menggunakan zat pengemban (carrier) yang akan membantu penyerapan zat warna oleh serat. Untuk proses pewarnaan batik polyester tidak dianjurkan dengan teknik celupan, mengingat sifat dasar dari bubur alginat yang tidak tahan terhadap air dan hanya tahan terhadap uap panas. Teknik coletan atau pewarnaan dengan menggunakan kuas merupakan alternatif cara paling tepat.

Source Teknik Membatik Pada Kain Non Katun Batik
Comments
Loading...