Tantangan Merancang Kembali Batik Kuno

0 13

Tantangan Merancang Kembali Batik Kuno

Perancang mode Anthony Tandiyono menggambarkan situasi pada era 60-an di tempat berbeda menggunakan busananya yang menggunakan Batik Lasem. Menurutnya, percampuran antara masa di tahun 60-an secara global dan di tanah peranakan akan memberikan sentuhan berbeda pada koleksinya. Dia menilai potret kebebasan di masa itu tergambar melalui busana siap pakainya yang memungkinkan penggunanya untuk bebas bergerak. Pada tahun 50-an, katanya, kaum hawa tampil mengenakan busana yang begitu mencengkeram tubuh. Hal itu terlihat dari penggunaan korset untuk membuat pinggang tampak ramping. Satu dekade setelahnya, tampilan itu hilang dengan munculnya busana yang lebih loose dan membuat gerak perempuan lebih bebas. “Aku mencoba paduin freedom dan kebebasan dan restriction di peranakan. Jadi shape-nya antara body hugging dan juga yang loose,” ujarnya.

Hasil gambar untuk Tantangan Merancang Kembali Batik Kuno

Alhasil, 12 busana yang ditampilkannya dengan semangat kebebasan, muda dan modern. Kendati baru membuat busana menggunakan batik, Anthony membuat busana berupa crop top berwarna hijau dengan celana pendek berwarna pink. Selain itu, sentuhan peranakan terlihat dari sebuah busana dengan kerah bergaya shanghai yang berwarna dasar hijau ditambah sentuhan batik berdasar warna putih.

Untuk membuat busana dari batik menantang kemampuan dirinya di bidang mode. Pasalnya, batik yang hanya memiliki lebar 1,2 meter dengan panjang 2 meter membuatnya harus berkreasi seefektif mungkin. Menyambung kain, tak mungkin dilakukan karena motif yang dibuat tak mungkin muncul dua kali. Oleh karena itu, semi finalis di Indonesia Fashion Week 2015 ini mengaku membuat busana dari batik tidaklah mudah. Batik itu kebanyakan lebarnya cuma 1,2 meter dan panjangnya 2 meter.

Source http://semarang.bisnis.com/ http://semarang.bisnis.com/read/20150803/6/80855/ini-tantangan-merancang-kembali-batik-kuno
Comments
Loading...