infobatik.id

Sulitnya Mencari Generasi Penerus Batik Lasem

0 34

Sulitnya Mencari Generasi Penerus Batik Lasem

Kota Lasem, sebagai kota batik yang ada di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mengalami masa kejayan pada 1970-an dengan corak khasnya berupa batik berwarna merah darah ayam. Ketika itu hampir setiap rumah di kota kecamatan di pesisir utara Pulau Jawa itu memproduksi Batik Lasem.  Dari mereka, tercipta ratusan motif batik dari corak klasik hingga kontemporer. Tapi, motif klasik sebagai kenangan masa keemasan itu tidak lagi dikenal dan tersimpan rapi di Kota Lasem ataupun di Kabupaten Rembang. Semua itu justru berada di Negara Swiss, Belanda, Australia, dan Jepang. Persoalan Rembang tidak hanya dari kepemilikan dokumentasi batik klasik khas Lasem, jumlah pengusaha batik pun tinggal hitungan jari. Para pembatik pun satu-persatu meninggalkan profesi tersebut dengan sejumlah alasan.

Selama ini, keahlian para pembatik umumnya didapat secara turun-temurun dan kegiatan itu dilakukan sebagai sambilan, karena pekerjaan utama mereka adalah petani dan buruh tani di kampung halamannya. Kondisi tersebut membuat produksi batik kurang maksimal dan keturunan mereka juga enggan meneruskan keahlian orang tuanya. Mereka lebih memilih hijrah ke kota besar untuk mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Merosotnya Batik Lasem tersebut diperparah dengan hadirnya batik cetak dan sablon dari sejumlah daerah penghasil batik, karena harga jual batik cetak maupun sablon jauh lebih murah dibanding batik tulis. Batik sablon bisa dijual Rp. 30 ribu per helai, bahkan ada yang menawarkan dalam bentuk baju dengan harga Rp. 50 ribu per baju. Sedangkan batik tulis, per helai paling murah Rp 100 ribu, belum termasuk ongkos jahitnya. Hal itu menjadi mimpi buruk bagi pengusaha batik yang sudah terpuruk sejak krisis tahun 1998. Saat ini, hasil penjualan yang impas dengan biaya produksi dianggap sebagai keberuntungan untuk mempertahankan kelangsungan usaha perbatikan.

Untuk menyiasati situasi yang demikian, para pengusaha terpaksa merampingkan usaha dengan memangkas jumlah produksi. Semula, setiap pengusaha selalu berproduksi untuk mengisi stok barang. Namun kini mereka hanya berproduksi ketika ada pesanan.  Pemilik Galeri Batik Cap Kuda itu mengatakan, saat usahanya jaya dia memiliki tenaga kerja 250 orang orang. Saat ini tinggal 30 pekerja yang tersisa. Usaha yang dilakukan untuk menjaring generasi penerus yang memiliki keahlian membatik sebenarnya sudah dilakukan. Namun, untuk mendapatkan tenaga dari generasi muda yang berminat bekerja sebagai pembatik sangat sulit. Ketidaktertarikan generasi muda untuk membatik karena alasan nilai ekonomi yang rendah dan tidak memiliki prestise. Usaha batik yang dijalaninya saat ini tinggal menunggu keberuntungan nasib. Bahkan dia menilai upaya promosi tidak akan berhasil, karena batik selama ini masih terkondisi untuk kalangan menengah atas dan khusus dipakai untuk acara tertentu.

Kalangan masyarakat sekarang ini jarang memakai kain kebaya melainkan lebih senang memakai celana dan rok karena lebih praktis, modis, dan murah dibanding batik tulis.  Kondisi tersebut kian membuat pasaran batik tulis, khususnya Batik Lasem semakin melemah. Instruksi Pemerintah Provinsi kepada sejumlah instansi di kabupaten untuk menggunakan seragam batik khas daerah masing-masing memang menjadi angin segar bagi pengusaha batik untuk bangkit. Namun, belum adanya kejelasan regulasinya membuat sejumlah pegawai di instansi pemerintah hanya menganggap aturan itu sebagai formalitas dengan memakai batik cetak yang lebih terjangkau harganya.

Rata-rata harga batik paling murah berkisar Rp. 100 ribu per helai. Seharusnya, ada bantuan dari pemerintah untuk membelikan baju seragam batik bagi sejumlah pegawainya. Jika ingin mengangkat batik tulis, tentunya yang dibeli batik tulis bukannya batik lain. Selain akan membangkitkan semangat membatik, usaha tersebut juga akan menyadarkan sejumlah kalangan terhadap warisan budaya batik tulis Lasem. Kenyataan membuktikan, rendahnya apresiasi terhadap batik tulis juga mengakibatkan kurang memasyarakatnya karya seni kerajinan tangan itu, karena selama ini batik dinilai khusus untuk kalangan berduit, kolektor, pecinta seni, dan dipakai pada kesempatan tertentu pula.

Ada hal lain yang menyebabkan Batik Lasem sulit berkembang adalah sulitnya mencari generasi penerus. Dengan melihat kondisi perbatikan di Lasem, terutama generasi pembatiknya yang terus berkurang. Padahal, Batik Lasem tidak terikat dengan pakem, sebagaimana Batik Solo dan Yogyakarta yang harus terikat dengan pakem. Untuk itu, harus ada usaha yang keras menjaring bakat muda dari sekolah dasar dan tingkat lanjutan pertama bekerjasama dengan dinas pendidikan setempat. Upaya tersebut kurang mendapat respondari pihak sekolah dengan alasan tidak ada dana. Pada masa mendatang kerajinan batik benar-benar bisa mendapatkan apresiasi dari masyarakat Lasem dan pencinta Batik Indonesia.

Source http://vaibatik.blogspot.co.id/ http://vaibatik.blogspot.co.id/2008/05/sulitnya-mencari-generasi-penerus-batik.html
Comments
Loading...