Sri Murniati, Penggagas Motif Pecel yang Jadi Ciri Khas Batik Madiun

0 61

Sri Murniati, Penggagas Motif Pecel yang Jadi Ciri Khas Batik Madiun

Tidak sengaja mengikuti pelatihan batik membuat Sri Murniati jatuh hati ke salah satu warisan budaya Indonesia ini. Dia tekun menggali informasi seluk beluk batik ke Solo dan Jogja.

Empat pembatik sibuk dengan bentangan kain di depannya. Sesekali bercanda, tangan mereka tetap tidak mau berhenti mewarnai kain. Kesibukan itu berlangsung di halaman samping sebuah galeri batik di Jalan Halmahera, Kelurahan Kartoharjo, Kota Madiun.

Sri Murniati, pemilik galeri, kadang memberikan arahan tentang teknik pewarnaan. Dia juga tidak segan memberikan contoh. ”Membatik itu harus teliti pada detail-detail pewarnaan motifnya,’’ pesan Sri Murniati.

Perempuan yang sering disapa Murni tersebut merintis galeri batik sejak enam tahun silam. Dia mengaku antara percaya dan tidak atas perannya ikut melestarikan warisan budaya Indonesia itu. ”Saya sudah lama suka batik. Benar-benar menekuni setelah ada pelatihan membatik yang diadakan Disperindag Kota Madiun. Ikut pelatihan juga tidak sengaja,’’ ungkap PNS berusia 50 tahun tersebut.

Murni yang bertugas di kantor satpol PP Madiun kebetulan diminta menjaga acara pelatihan membatik. Ketika itu dia ngebet ikut belajar memegang canting. Namun, Murni merasa tidak enak hati lantaran sedang berseragam polisi pamong praja.

Dia terpaksa mengurungkan niatnya sembari berharap mendapatkan kesempatan di lain waktu. ”Kebetulan ada satu peserta pelatihan berhalangan datang. Maju mundur minta izin komandan, saya boleh menggantikannya,’’ kenang ibu tiga anak itu.

Murni girang bukan kepalang saat duduk dengan jari tangan kanan memegang canting. Arahan dari instruktur batik diperhatikannya seksama seraya praktik langsung di atas kain. Waktu berjam-jam dihabiskannya untuk membatik. Tak disangka, batik tulis karya Murni menempati urutas atas penilaian. ”Saya heran bercampur senang,’’ ingatnya.

Murni akhirnya kecanduan membatik. Kepuasan merampungkan sebuah pola memompa semangatnya untuk terus berlatih. Dia sengaja memborong seperangkat peranti membatik.

Apalagi, waktunya kian longgar setelah berpindah tugas sebagai staf di kantor Kelurahan Nambangan Lor pada November 2011. Libur kerja Sabtu dan Minggu dimanfaatkan Murni melancong ke Solo dan Jogja mengunjungi sejumlah perajin batik. ”Tanya banyak hal tentang kerajinan batik sambil belajar,’’ katanya.

Murni sengaja mengajak ibu-ibu di Nambangan Lor belajar membatik yang ternyata bukan perkara gampang. Peserta yang awalnya berjumlah 58 hanya tersisa delapan orang.

Muncul niat Murni mendirikan galeri dan memproduksi batik secara masal. Delapan pembatik asal Nambangan Lor tersebut diajak lebih serius menekuni batik. ”Akhirnya berjalan sampai sekarang,’’ ujarnya.

Murni tidak mau tanggung-tanggung. Pada awal-awal merintis galeri batik, istri Tonni Wiweko itu nekat ambil cuti. Dia mengunjungi Balai Batik Jogja untuk mendalami warna alami batik. Daftar bahan pewarnaan alami pun didapat, mulai kayu tingi sampai daun indigo.

Kelir kuning dan biru yang berasal dari bahan alami tersebut diyakini lebih awet menempel pada kain. ”Lebih tahan lama kalau menggunakan bahan-bahan alami,’’ tuturnya. Dia mengamati, warna-warna yang dihasilkan pewarna alami berkesan kalem. Urusan tebal dan tipis warna bisa diakali pada tahap penguncian warna.

Ada tiga media pengunci warna yang digunakan. Yakni, tawas untuk warna lebih muda, enjet (larutan gamping) untuk warna sedang, dan tunjung untuk warna yang lebih gelap. ”Kain harus berkali-kali dicelup ke larutan itu,’’ jelasnya. ”Untuk motif pecel yang saya buat, perlu belasan kali penguncian warna,’’ imbuhnya.

Motif gubahan Murni adalah batik pecel. Dia sengaja memilih pecel karena menjadi ciri khas Kota Madiun. Bahan-bahan pecel seperti daun ketela, kembang turi, hingga cabai dialihkannya ke pola. ”Saya memakai pakem pola klasik, tapi tetap berciri khas pecel,’’ ujarnya.

Batik pecel kini melanglang ke luar daerah. Kemeja bercorak pecel itu kali pertama dikenakan Sutoyo, ketua MUI Kota Madiun, saat menghadiri acara di Ngawi. Peserta dari Ambon, Maluku, tertarik hingga menyempatkan datang langsung ke galeri batik milik Murni. ”Orang Ambon tersebut sampai sekarang menjadi pelanggan tetap,’’ tuturnya.

Batik buatan Murni itu menyeberang ke Gorontalo. Ketika ikut pameran di Sulawesi, Disperindag Kota Madiun sengaja memamerkan batik kecel. Banyak pengunjung yang tertarik hingga pesanan berdatangan ke Murni selepas pameran tersebut.

Source https://www.jawapos.com https://www.jawapos.com/features/07/06/2017/sri-murniati-penggagas-motif-pecel-yang-jadi-ciri-khas-batik-madiun
Comments
Loading...