Sentra Batik : Sepenggal Kisah Batik Danar Hadi, Solo

0 54

Santosa Doellah adalah anak ke 5 dari 10 bersaudara. Ayahnya adalah seorang dokter anak. Kakek buyutnya, H. Bakri, adalah seorang pengusaha batik dan juga salah seorang tokoh Serikat Dagang Islam. Ia sudah mengenal batik sejak umur 15 tahun dari kakeknya, R. H. Wongsodinomo, yang merupakan pendiri Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Tak heran jika sejak kecil ia sudah terbiasa membuat desain batik, mengenal bermacam motif, menggunakan canting (alat untuk menggoreskan malam ke kain), pewarnaan dan nglorot (menghilangkan malam pada kain).

Ketika menjadi mahasiswa fakultas ekonomi UNPAD di Bandung, ia mulai berjualan batik yang ia bawa dari Solo. Ketika skripsi, bisnis batiknya mulai berkembang sehingga ia memilih berhenti kuliah. Setelah menikah, pada tahun 1967 ia mendirikan Danar Hadi di Solo. Danar Hadi adalah gabungan dari nama depan istrinya, Danar, dan nama keluarga besar istrinya, Hadi. Dengan hadiah pernikahan dari kakek-neneknya berupa 29 pak kain mori dan 174 lembar kain batik beserta 20 orang karyawan, produksi pertama Danar Hadi adalah batik tulis Wonogiren yang merupakan adaptasi dari motif batik klasik keraton Solo.

Dari hasil penjualan Batik Wonogiren, ia membuka perkampungan batik di kawasan Singosaren tahun 1968. Tahun 1970 ia mendirikan perkampungan serupa di Masaran, Sragen. Tahun 1975 (atau 1973) ia mendirikan sentra usaha batik di Pekalongan dan Cirebon. Pada awal tahun 1980 batik diekspor.

Source kaskus.co.id kaskus.co.id/thread/5242286a3ecb17a72c000003/sepenggal-kisah-batik-semar-amp-batik-danar-hadi
Comments
Loading...