Seni Batik

0 140

Seni Batik

Seni batik merupakan seni lukis dengan  bahan kain, canthing dan malam ‘sebangsa cairan lilin’. Canthing biasanya berbentuk seperti mangkuk kecil dengan tangki (pegangan) terbuat dari kayu atau bambu dan bermoncong satu atau lebih. Canthing yang bermoncong satu untuk membuat garis, titik atau cerek, sedangkan canthing yang bermoncong beberapa (dapat sampai tujuh) dipakai untuk membuat hiasan berupa kumpulan titik-titik.

Bertahannya seni batik sampai jaman modern seperti sekarang ini tidak dapat dilepaskan adanya kebanggaan, adat tradisi, sifat religius dari ragam hias batik, serta usaha untuk melestarikan pemakai batik tradisional dan tata warna tradisional. Dilihat dari proses pembuatannya ada batik tulis dan batik cap. Dengan semakin berkembangnya motif dan ragam hias batik cap, mengakibatkan batik tulis tradisional mengalami kemunduran. Hal ini dapat dimengerti sebab batik tulis secara ekonomis harga relatif mahal dan jumlah pengrajin batik tulis semakin berkurang.

Ada beberapa daerah yang masih dapat dikatakan sebagai daerah pembatikan tradisional. Daerah yang dimaksud antara lain: Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Indramayu, Garut, Pekalongan, Lasem, Madura, Jambi, Sumatera Barat, Bali dan lain-lain.

Surakarta atau Surakarta Hadiningrat juga dikenal dengan nama Solo merupakan ibukota kerajaan dari Karaton Surakarta Hadiningrat. Sebagai pusat kebudayaan Surakarta tidak dapat dilepaskan sebagai sumber seni dan ragam hias batiknya. Ragam hias batik umumnya bersifat simbolos yang erat hubungannya dengan filsafat Jawa-Hindu, misalnya :

  • Sawat atau hase ‘sayap’ melambangkan mahkota atau perguruan tinggi
  • Meru ‘gunung’ melambangkan gunung atau tanah
  • Naga ‘ular’ melambangkan air (tula atau banyu)
  • Burung melambangkan angin atau dunia atas
  • Lidah api melambangkan nyala api atau geni

Penciptaan dalam ragam hias batik tidak hanya memburu keindahannya saja, tetapi juga memperhitungkan nilai filsafat hidup yang terkandung dalam motifnya. Yang dalam filsafat hidup tersebut terkandung harapan yang luhur dari penciptanya yang tulus agar dapat membawa kebaikan dan kebahagiaaan pemakainya. Beberapa contoh :

  1. Ragam hias slobong, yang berarti agak besar atau longgar atau lancar yang dipakai untuk melayat dengan harapan agar arwah yang meninggal dunia tidak mendapat kesukaran dan dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Ragam hias sida mukti, yang berarti ‘jadi bahagia’, dipakai oleh pengantin pria dan wanita, dengan harapan agar pengantin terus-menerus hidup dalam kebahagiaan.

Ragam hias dalam seni batik aturan dan tata cara pemakainya menyangkut harapan pemakainya. Disamping itu, khusus di Karaton Surakarta, ragam hias batik (terutama kain batik) dapat menyatakan kedudukan sosial pemakainya, misalnya ragam hias batik parang rusak barong atau motif lereng hanya boleh dipakai oleh raja dan putra sentana. Bagi abdi dalem tidak diperkenankan memakai ragam hias tersebut.

Seni batik bagi Karaton Surakarta merupakan suatu hal yang penting dalam pelaksanaan tata adat  busana tradisional Jawa, dan dalam busana tradisional ini kain batik memegang peranan yang cukup penting bagi pelestarian dan pengembangan seni budaya jawa kedepan.

Source Seni Batik Batik
Comments
Loading...