Sejarah Sentra Batik Sragen

0 249

Sejarah Sentra Batik Sragen

Masayarakat belum banyak mengetahui bahwa Sragen ada banyak pengrajin sentra industri batik rumahan, tepatnya di Kecamatan Masaran dan Plupuh.  Batik sragen memiliki motif khas yaitu motif flora dan fauna, ada juga yang dikombinasikan dengan motif baku seperti motif hewan ataupun motif tumbuhan yang dikombinasikan dengan motif baku seperti parang , sidoluhur dan lain sebagainya

Sejarah batik Masaran dan Plupuh di mulai dari desa  Kliwonan. Desa Kliwonan berkaitan dengan Ki Ageng Butuh  atas jasa-jasa Ki Ageng Butuh, akhirnya Desa Butuh-Kuyang dijadikan sebagai Desa perdikan. Sejak dijadikan sebagai desa perdikan, maka di Desa Butuh (Kecamatan Plupuh)  dan Kuyang (Desa Kliwonan Kecamatan Masaran) berkembang juga budaya keraton yaitu batik. Dijadikannya Desa Butuh dan Kuyang sebagai Desa perdikan, kemudian banyak orang yang menjadi abdi dalem keraton, termasuk kaum wanita. Akhirnya ada abdi dalem kriya yang menjadi tenaga pembatik di Keraton. Ketrampilan membatik kemudian dikembangkan di daerah asalnya yaitu Desa Butuh-Kuyang, sehingga banyak orang khususnya kaum wanita yang dapat membatik.

Ketrampilan membatik yang diwariskan secara turun-temurun di daerah Butuh dan Kuyang yang hanya dibatasi oleh sungai bengawan Solo.  Proses penciptaan motif batik meliputi beberapa hal atau aspek sampai terciptanya suatu bentuk motif, yaitu fungsi, bahan, bentuk, tehnik atau proses dan estetis. Beragam aspek merupakan faktor internal yang menyangkut karya batik itu sendiri. Keseluruhan aspek tersebut diawali dari ide yang dipengaruhi oleh beragam faktor eksternal (luar), misalnya budaya dan sosial. Pada batik tulis tradisional di Kliwonan ide pembuatan motifnya dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa faktor budaya dan adat.

Desain motif batik tradisi yang dibuat berdasarkan tradisi secara turun-temurun sebagai salah satu wujud pelestarian budaya Jawa (khususnya) dan untuk memenuhi permintaan sehubungan dengan keperluan adat istiadat. Maka dalam motif batik tradisi di samping adanya keindahan visual, terdapat pula makna yang terkandung di dalamnya. Aspek-aspek internal pada pembuatan motif batik tulis tradisi maupun kreasi baru adalah sama, tetapi dengan ide penciptaan yang berbeda mempengaruhi keseluruhan bentuk visualnya.  Batik Kliwonan merupakan bagian dari batik Surakarta, sehingga motif yang ada di dalam batik sarat juga akan nilai-nilai Filsafati Jawa.

Sragen awal mulanya identik dengan batik Surakarta, terutama di era 80-an. Tak mengherankan, sebab para pionir kerajinan batik di Sragen umumnya pernah bekerja sebagai buruh batik di perusahaan milik juragan batik Surakarta. Namun kemudian, batik Sragen berhasil membentuk ciri khas yang berbeda dari gaya Yogyakarta dan Surakarta. Batik gaya Yogyakarta umumnya memiliki dasaran atau sogan putih dengan motif bernuansa hitam atau warna gelap. Corak Yogyakarta ini biasa disebut batik latar putih atau putihan. Beda lagi dengan batik gaya Surakarta, biasanya memiliki warna dasaran gelap dengan motif bernuansa putih. Biasa disebut batik latar hitam atau ireng.

Batik dari daerah pesisir utara Jawa itu biasanya berlatar warna cerah mencolok. Motif batik yang digoreskan umumnya berukuran kecil-kecil dengan jarak yang rapat. Beda dengan batik Sragen. Lahirnya motif tersebut tidak lepas dari pengaruh karakter masyarakat Sragen yang pada dasarnya terbuka dan blak-blakan dalam mengekspresikan isi hati.

Source Sejarah Sentra Batik Sragen Batik Sragen
Comments
Loading...