Sejarah Kerajinan Batik Lurik Yogyakarta

0 369

Sejarah Kerajinan Batik Lurik Yogyakarta

Pada zaman prasejarah pakaian masih terbuat dari kulit kayu, daun-daunan atau kulit binatang dan fungsinya pun sekedar untuk melindungi tubuh dari cuaca, serangga dan benda-benda tajam. Alat serta Proses pembuatannya pun masih sangat sederhana. Untuk membuat pakaian dari kulit kayu dipilih jenis pohon keras yang mempunyai serat panjang. Kulit kayu direndam dalam air hingga lunak, kemudian dengan alat pemukul berupa batu kulit kayu dipipihkan hingga membentuk kain.

Bukti-bukti mengenai pembuatan kain menunjukan bahwa kain tradisional sudah ada sejak kurang lebih 3000th lampau. Beberapa peninggalan membuktikan bahwa masyarakat tradisional membuat kain dengan cara menenun sebagaimana terlihat pada situs yang ditemukan di Gilimanuk, Melolo, Sumba Timur, Gunung Wingko, Yogyakarta, dll.. Peninggalannya berupa cap (teraan) tenunan, alat pemintal, kereweng bercap kain tenun dan bahan dengan tenunan kain yang terbuat dari kapas.

Khususnya di Jawa, kain tenun tradisional yang paling tumbuh dan berkembang adalah lurik. Berbagai penemuan sejarah menunjukan bahwa kain Batik Lurik telah ada di Jawa sejak zaman pra sejarah. Ini terbukti pada Prasasti peninggalan kerajaan Mataram (851-882 M) yang menunjukkan adanya kain lurik pakan malang. Prasasti Raja Erlangga Jawa Timur tahun 1033 yang menyebutkan bahwa kain tuluh watu adalah salah atu nama kain lurik. Dan juga pemakaian selendang pada arca terracotta asal Trowulan di Jawa Timur dari abad 15 M menunjukkan penggunaan kain lurik pada masa itu. Adanya tenun di pulau Jawa diperkuat dengan pemakaian tenun pada arca-arca dan relief candi yang tersebar di pulau Jawa.

Daerah persebaran Lurik adalah di Yogyakarta, Solo dan Tuban. Lurik berasal dari bahasa Jawa kuno lorek yang berarti lajur atau garis, belang dapat pula berarti corak. Pada dasarnya lurik memiliki 3 motif dasar, yaitu: motif lajuran dengan corak garis-garis panjang searah sehelai kain, motif pakan malang yang memiliki garis-garis searah lebar kain, dan motif cacahan adalah lurik dengan corak kecil-kecil.

Khusus untuk Jogja dan Solo kain lurik ditenun dengan teknik wareg yang artinya anyaman datar atau polos. Meski jika dilihat dari teknik pengerjaan sederhana, namun sesungguhnya dibutuhkan ketrampilan dan kejelian dalam memadukan warna serta tata susunan kota dan garis yang seras dan seimbang agar menghasilkan kain lurik yang indah dan mengagumkan.

Lurik tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan sehingga keberadaannya selalu mengiringi berbagai upacara ritual adat. Filosofi dan makna lurik tercermin pada motif dan warnanya, ada corak yang dianggap sakral dan memberi tuah, ada yang memberi nasihat, petunjuk dan harapan. Berbagai unsur seperti warna, motif dan terutama kepercayaan yang menyertai kain lurik, membuat nilai lurik menjadi tinggi.

Source Sejarah Kerajinan Batik Lurik Yogyakarta Batik
Comments
Loading...