Sejarah Batik Tulis Sarjuni

0 128

Sejarah Batik Tulis Sarjuni

Usaha Batik Tulis Sarjuni ini hanya melanjutkan dari perjuangan orang tua mereka untuk melestarikan batik tulis. Sarjuni merupakan nama dari pemilik usaha batik. Sarjuni mewarisi usaha batik tulis dari R. Ngt. Jogo Pertiwi yang merupakan orang tua dari Sarjuni. Awalnya R. Ngt. Jogo Pertiwi pada tahun 1970 mempunyai karyawan sebanyak lima orang perajin.

Seiring berkembangnya batik tulis, maka karyawan R. Ngt. Jogo Pertiwi pun semakin bertambah yaitu sejumlah 35 orang. Usaha batik tulis R. Ngt Jogo Pertiwi meraih kemajuan yang cukup baik pada tahun 1992. Selain menambah jumlah karyawan, R. Ngt. Jogo Pertiwi juga berusaha untuk mewujudkan adanya mitra kerja yang baik dengan perajin batik tulis yang ada di wilayah Imogiri. Dengan terbentuknya mitra kerja yang baik tentu akan membawa dampak yang positif bagi masyarakat disekitarnya. R. Ngt. Jogo Pertiwi banyak memberikan bantuan dalam bentuk pendidikan dan latihan batik tulis terutama pada motif-motif batik tradisional.

Berkat usaha R. Ngt. Jogo Pertiwi tersebut banyak melahirkan wiraswastawiraswasta baru. Hal ini bisa terjadi karena tenaga yang sudah terlatih dan sudah memiliki kemampuan teknis, sebagian dari mereka telah membuka usaha sendiri sebagai perajin batik tulis. Mereka ternyata juga banyak merekrut tenaga kerja. Keterkaitan yang harmonis antara mitra usaha tampak semakin kuat berkat adanya prinsip saling membutuhkan dan saling menguntungkan.

Meskipun sebagian dari tenaga kerja sudah membuka usaha sendiri, namun R. Ngt. Jogo Pertiwi tidak merasa tersaingi, justru Ia merasa bangga karena dapat membangkitkan semangat masyarakat untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini ditandai bahwa R. Ngt. Jogo Pertiwi tetap memberikan bantuan berupa bahan baku dan strategi pemasaran baik didalam atau diluar negeri. Usaha R. Ngt. Jogo Pertiwi ini sangat positif dan bermanfaat karena dari sinilah kehidupan para perajin semakin terangkat. Selain itu lewat gebrakan langkahnya waktu itu mampu memberikan sumbangan cukup besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan industri kecil, khususnya di daerah Imogiri.

Pada masa kejayaan R. Ngt. Jogo Pertiwi, batik tulis ini mendapatkan apresiasi dari pemerintah berupa upakarti sebagai penghargaan akan pelestarian batik pada tahun 1992. Produksi batik tulis ini berupa kain panjang dengan motifmotif tradisional. Dalam proses pewarnaannya menggunakan warna alam dan sintetis. Pada tahun 1996 batik tulis ini sempat mengalami penurunan pasar, hal ini disebabkan adanya produksi batik cap. Meskipun batik cap lebih mudah dalam hal pemasarannya, namun R. Ngt. Jogo Pertiwi tetap mempertahankan batik tulisnya dengan motif-motif tradisional dalam produksinya.

Pada tahun 2003 Sarjuni mewarisi usaha dari R. Ngt. Jogo Pertiwi. Dahulu perajin batik di tempat ini yang berjumlah 35 orang, kini perajin ditempat ini meningkat menjadi 40 orang, terdiri atas ibu-ibu dan anak-anak sekolah. Mereka mengembangkan batik tulis ini karena merupakan kekayaan budaya yang harus selalu dijaga dan dikembangkan. Selain itu dari generasi ke generasi, batik tulis ini sudah mempunyai banyak pelanggan.

Usaha batik tulis ini juga dapat membantu anak-anak putus sekolah, membuka lapangan pekerjaan dan juga untuk kegiatan anak-anak setelah mereka pulang dari sekolah. Karena dengan bekerja sebagai perajin batik, anak-anak khususnya dapat membeli alat-alat tulis sendiri sehingga dapat membantu meringankan biaya sekolah orang tua mereka. Sejak tahun 2003 batik tulis ini masih mengembangkan motif-motif tradisional karena masih banyak pelanggan yang memesan motif-motif tradisional.

Dan hasil yang diproduksi masih sebagian besar berupa kain panjang, sarung, selendang, dan blangkon. Dalam pemasaraanya Sarjuni memiliki show room sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal. Show room ini berada di area makam raja-raja tepatnya di tangga masuk menuju makam. Letaknya yang berdekatan dengan makam tersebut, membawa keuntungan tersendiri bagi Sarjuni, karena jika musim libur atau ada acara di makam raja-raja, batik tulis ini ramai dikunjungi wisatawan atau peziarah yang datang ke makam.

Beberapa dari wisatawan tersebut membeli batik tulis, namun ada juga yang sering memesan atau belajar membatik. Banyak pelanggan yang memesan sesuai dengan motif-motif yang diinginkan, sehingga Batik Tulis Sarjuni memproduksi batik sesuai dengan permintaan pelanggan. Dalam hal bentuk motif diserahkan sepenuhnya oleh anak Sarjuni dan dibantu oleh beberapa perajin yang lain. Meskipun demikian Batik Tulis Sarjuni tetap memproduksi batik dengan motif-motif tradisional. Karena motif-motif tradisional sudah menjadi ciri khas batik tulis di tempat ini. Pada tahun 2009 Batik Tulis Sarjuni mendapatkan penghargaan dari gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta berupa tropi pelestarian batik tulis.

Source http://eprints.uny.ac.id/27622/1/Nita%20Wulandari%2C%2007207241009.pdf
Comments
Loading...