Sejarah Batik Semar

0 76

Sejarah Batik Semar

Niniek Elia Kasigit mengenal bisnis batik sejak kanak-kanak. Ibu dan neneknya menggeluti usaha batik di Solo, Jawa Tengah yang gosipnya berlangsung sejak abad ke 19. Pabrik batik keluarga Niniek ditutup ketika Jepang mulai menjajah Indonesia tahun 1942. Pada waktu itu ia berhenti sekolah karena Jepang menutup sekolah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Meski begitu, Niniek melanjutkan belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Mandarin secara informal, sekaligus menekuni keterampilan menjahit. Pada usia 18 tahun, Niniek menikah dengan Somadi Kasigit yang juga berasal dari keluarga pengusaha batik di Solo. Setahun sebelum menikahi Niniek, Somadi mendirikan perusahaan Batik Bodronoyo pada tahun 1947. Bodronoyo adalah nama lain Semar, tokoh panutan dalam pewayangan.

“Dulu, ibu saya membuat jarik (kain panjang) batik cap. Ketika mulai usaha sendiri, cap-cap dari perusahaan orangtua saya simpan, kami buat batik tulis,” ujar Niniek. Cap pada pembatikan dibuat dari kawat tembaga yang membentuk satu blok motif sebagai pengganti canting, alat lukis batik. Batik cap diproduksi lebih banyak dibanding batik tulis agar lebih ekonomis. Mahalnya harga kain pasca penjajahan Jepang menjadi tantangan berat bagi produsen batik. Pasangan Niniek-Kasigit memilih memproduksi batik tulis dengan sejumlah pembatik di bengkel yang juga menjadi rumah tinggal mereka di masa itu.

Ketika perusahaan mulai berjalan, agresi militer Belanda tahun 1949 memaksa keluarga Kasigit mengungsi ke Surabaya. Di pengungsian, pasangan ini menggandeng beberapa pembatik dari Sidoarjo, memperkenalkan corak Solo dan menjual produksi mereka di sekitar Surabaya. Gosipnya usaha di Surabaya tak berkembang karena mereka kesulitan mencari pembatik dan juga karena tempat usahanya di pengungsian.

Mereka lalu kembali ke Solo pada awal tahun 1950 dan memulai lagi produksi batik dengan lima karyawan. Kombinasi produksi batik tulis dengan cap baru dilakukan tahun 1952 (atau 1953) setelah modal bertambah karena mendapat jatah pembelian kain mori dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia. Tahun 1954 mereka menyewa lahan seluas hampir 5.000 meter persegi di kawasan Punggawan, Solo yang di kemudian hari mereka beli seiring berkembangnya usaha.

Menjelang tahun 1960 Niniek merasa bosan dengan kreasi batik ketika itu sehingga ia beri macam-macam warna. Perubahan warna juga mendorong adopsi beragam corak batik dari daerah lain seperti Yogya, Pekalongan, Cirebon, dan Laseman. Pasar menyambut baik kreasi baru ini. Dari 5 karyawan ketika berdiri, Batik Bodronoyo berkembang menjadi sekitar 200 karyawan pada 1960-an. Tahun 1966 nama Batik Bodronoyo diganti menjadi Batik Semar karena nama Semar lebih akrab di masyarakat.
Bagi perusahaan sendiri nama Semar dapat diartikan sebagai:
S = Sarwi / bersama-sama
E = Ening / suci bersih
M = Marsudi / berusaha tanpa putus asa
A = Ajuning / perkembangan
R = Rasa / seni
Arti secara umum adalah dengan niat yang tulus, secara berkesinambungan berusaha terus untuk mengembangkan produk batik.

Ketika itu di Indonesia sedang terjadi krisis ekonomi sehingga pasar menuntut produk batik yang lebih murah. Secara kebetulan teknik printing yang diimpor dari Eropa untuk membuat kain bermotif batik mulai berkembang di Indonesia, karena itu pada tahun 1972 Batik Semar memproduksi kain cetakan bermotif batik. Produksi printing itu khusus untuk bahan kemeja, sedangkan batik tulis dan cap tetap dikembangkan. “Setelah punya unit printing, kami baru buka toko dan memproduksi garmen, bukan hanya batik,” ujar Niniek.

Tahun 1983 Somadi meninggal dunia. Pada tahun 1989 Batik Semar mulai mengekspor garmen dan kerajinan tangan berbahan batik ke Jepang, Korea Selatan, Italia, Belanda, UEA, dan Amerika Serikat. Ketika bisnis Batik Semar membesar, ruang pamer utama, bengkel produksi batik tulis, dan rumah tinggal Niniek dalam satu kompleks di Punggawan terbakar habis pada tahun 2002. Kebakaran ini menghanguskan pula koleksi batik kuno yang diproduksi orangtuanya. Batik Semar tutup tiga bulan dan membuka toko lagi di bekas pabrik tekstil milik mendiang Somadi di Jalan Adisucipto, Solo. Usahanya perlahan-lahan pulih. Tahun 2006 ruang pamer utama Batik Semar selesai dibangun dengan konsep dan tatanan baru.

Usia yang terus bertambah tak menyurutkan semangat belajar Niniek. Itu pun tak hanya dalam lingkup yang berkaitan dengan Batik Semar. Sebagai contoh, ketika keempat anaknya kuliah di Jerman, Niniek pun ikut belajar bahasa Jerman. Kini Batik Semar memiliki sekitar 700 pekerja yang dapat memproduksi batik hingga 30.000 buah per bulan.

Source http://infoseputarbatik.blogspot.com/ http://infoseputarbatik.blogspot.com/2014/09/sejarah-batik-semar.html
Comments
Loading...