Sejarah Batik Purbalingga

0 526

Sejarah Batik Purbalingga

Sejarah awal keberadaan Batik Purbalingga tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Batik Banyumas yang berpusat di daerah Sokaraja. Hal ini mengingat Purbalingga merupakan salah satu wilayah eks-karesidenan Banyumas. Dimana awal mula perkembangan batik di wilayah Banyumasan dibawa oleh para pengikut pangeran Diponegoro setelah Perang Jawa atau Java Oorlog yang berakhir pada tahun 1830. Oleh karena itu, batik yang diproduksi di wilayah eks-karesidenan Banyumas juga kerap disebut batik Banyumasan. Bahwa batik Banyumasan mengacu pada batik-batik yang diproduksi di wilayah eks-karesidenan Banyumas. proses pembatikan di Banyumas menggunakan teknik dua kali nglorod, sehingga banyak orang menyebut teknik semacam ini sebagai “proses Banyumasan”. Salah satu pengikut pangeran Diponegoro yang menetap di eks-karesidenan Banyumas dan menjadi pengusaha batik pada masa itu yaitu Najendra. Najendra merupakan salah satu pengikut Pangeran Diponegoro. Beliau memperkenalkan dan mengembangkan batik di daerah Sokaraja. Kemudian lama-kelamaan masyarakat setempat belajar membatik.

Pada masa itu pengusaha batik di Sokaraja berada di sepanjang aliran sungai kali pelus. Tenaga pembatik di Sokaraja kebanyakan juga berasal dari wilayah eks- karesidenan Banyumas, termasuk kabupaten Purbalingga tepatnya yang berasal dari desa Galuh, Limbasari, Tlagayasa dan Kalikajar Kulon. Hal inilah yang mengakibatkan sentra batik yang ada di wilayah Purbalingga tidak terletak di pusat pemerintahan kota Kabupaten Purbalingga. Keterampilan membatik para pembatik yang berasal dari Kabupaten Purbalingga dibatasi oleh para pengusaha batik di Sokaraja sehingga tidak dapat melakukan proses pewarnaan.

Para pembatik yang berasal dari wilayah Purbalingga bekerja membatik di wilayah Banyumas. Setelah mempunyai keterampilan membatik, kemudian membatik di rumah masing-masing pembatik. Namun pada tahap pewarnaan diserahkan kembali pada pengusaha batik di Sokaraja. Pada tahun 1920an, berdirilah perusahaan batik di Purbalingga yaitu Batik Handel Tan Hok Dji. Beliau merupakan keturunan etnis Tionghoa yang menetap di Purbalingga, bahkan beliau juga membuat buku resep warna perusahaannya. Terdapat dua perusahaan batik di Purbalingga kala itu, namun perusahaan batik yang terdapat di Purbalingga tidak sebesar perusahaan batik yang terdapat di Sokaraja.

Keterampilan untuk menorehkan lilin di atas permukaan kain mori tidak hanya dimiliki oleh para pembatik di wilayah Purbalingga, namun juga dimiliki oleh para putri bupati. Dimana para keluarga bupati yang terdapat di Purbalingga mempunyai gelar kebangsawanan yang berasal dari tanah Jawa. kegiatan membatik yang dilakukan oleh para putri bupati mempunyai tujuan yang berbeda dengan para buruh batik. Kegiatan yang dilakukan para putri bupati tersebut merupakan keterampilan yang harus dimiliki, sedangkan kegiatan yang dilakukan oleh para buruh batik merupakan pekerjaan yang dilakukan guna menopang perekonomian kehidupannya.

Source http://eprints.uny.ac.id/23508/1/TAS_FULL-ok.pdf
Comments
Loading...