Sejarah Batik Ponorogo

0 972

Sejarah Batik

Batik Masuk Ke Ponorogo Sejak Abad Ke 15, saat itu ketika Ki Ageng Hasan Besari Tegalsari menikah dengan salah satu Putri Keraton Surakarta. Saat Itu juga kebudayaan Keraton Surakarta di bawa ke Ponorogo termasuk batik. Hingga kemudian pada awal Abad Ke 20 (Sekitar Tahun 1900-1930an), adalah era dimulainya industri batik di Ponorogo.

Konon ada seorang pengusaha Tionghoa bernama Wi-Sing memiliki sebuah usaha produksi batik yang besar, mampu memproduksi kain batik dalam jumlah banyak. Produksi batik dari rumah produksi batik Wi-Sing ini dipasarkan hingga ke Malaysia dan Jepang. Kesuksesan Wi-Sing inilah kemudian menginspirasi masyarakat Ponorogo mendirikan industri batik. Bermula belajar dari para teknisi batik asal Tulungagung yang datang ke Ponorogo, maka industri batik Ponorogo semakin berkembang dan banyak masyarakat Ponorogo yang menekuni industri batik.

Semakin banyak masyarakat Ponorogo yang terjun di industri Batik, hingga kemudian pada tahun 1948, berdirilah koperasi batik yang pertama di Ponorogo, yaitu “Koperasi Batik Bakti”. Pada waktu itu masih sedikit yang menjadi anggota koperasi, hingga kemudian tahun 1955, terkumpul lebih dari 300 anggota, yang semuanya adalah pengusaha dan pengrajin batik.

Sentra Industri batik di Ponorogo waktu itu tersebar hingga ke daerah Kertosari, Patihan Wetan (Kauman Pasar Pon, dulu), Pondok, Cekok, Kadipaten, Ngunut  dan Kanten di wilayah kecamatan Babadan. Di wilayah kecamatan Ponorogo seperti di Nologaten, Bangunsari, Banyudono, Cokromenggalan dan Mangunsuman.  Untuk wilayah kecamatan Jenangan di Setono dan wilayah kecamatan Siman di Kelurahan Ronowijayan. Banyaknya jumlah pengusaha dan pengrajin batik ini kemudian menginspirasi untuk membuat sebuah koperasi batik sendiri, setelah Koperasi Batik Bakti.

Koperasi batik yang baru ini hasil gabungan dari 3 koperasi batik yang sudah ada–Koperasi Batik Kertosari, Koperasi Batik Patihan Wetan dan Koperasi Perbaikan di desa Pondok, Babadan–hingga kemudian terbentuklah koperasi batik yang di beri nama “Koperasi Pembatik” pada tanggal 9 Desember 1953. Kantor Koperasi Pembatik ini pada awalnya berada di rumah Bapak Wongsohartono di desa Pondok kecamatan Babadan. Kemudian Dalam waktu yang singkat, pada tahun 1955, Koperasi Pembatik telah mempunyai 150 anggota dan mencatatkan omzet hingga 5juta rupiah setiap bulannya.

Tahun 1960, Koperasi Pembatik memulai mendirikan pabrik tekstil “Sandang Buana”, berlokasi di Jl.Arif Rahman Hakim, sekarang digunakan menjadi Pabrik Es. Pabrik tekstil ini beroperasi tahun 1964 dan secara bertahap kemudian mempunyai kurang lebih 200 mesin, yang mampu memproduksi kain mori kasar (kain blacu) sebanyak 25 meter per hari, per mesin. Hasil produksi kain mori kasar ini kemudian di finishing di Solo, menjadi kain mori halus. Seperti halnya pabrik tekstil milik Koperasi Bakti, hasil dari pabrik tekstil Sandang Buana juga hanya untuk memenuhi kebutuhan anggota Koperasi Pembatik saja. Senasib dengan pabrik tekstil milik Koperasi Bakti, pabrik tekstil Sandang Buana pun akhirnya tutup dan tidak beroperasi lagi sejak tahun 2004. Sampai saat ini di Ponorogo masih ada 2 koperasi batik yang besar yaitu Koperasi Bakti & Koperasi Pembatik, hanya saja para anggotanya sudah tidak memproduksi batik .

Industri batik di Ponorogo meredup sekitar akhir tahun ‘60an hingga tahun ‘70an. Banyak faktor yang mempengaruhi surutnya industri batik di Ponorogo. Salah satunya adalah munculnya batik printing (batik dengan cetak sablon). Batik printing ini harganya lebih murah karena biaya produksi lebih ekonomis dan mampu memproduksi masal hanya dalam waktu yang singkat. Semenjak itu, jatah bahan mentah untuk batik dari koperasi–seperti kain,bahan pewarna,malam, dsb–akhirnya di jual dengan begitu saja, tidak untuk memproduksi batik. Dari penjualan bahan mentah batik ini saja, para pengusaha dan pengrajin batik anggota koperasi sudah mendapatkan untung yang berlipat, demikian yang dituturkan Bapak Muchsin, sesepuh Koperasi Batik Bakti.

Lambat laun, semakin banyak pengusaha dan pengrajin batik yang tidak memproduksi batik lagi, bahkan kemudian beralih profesi/bidang usaha . Sisa-sisa kejayaan industri batik Ponorogo masih bisa kita saksikan di gaya arsitektur rumah dan bangunan yang ada di daerah-daerah sentra industri batik. Rumah dan bangunannya kebanyakan kurang lebih sama, yaitu sedikit berbau arsitektur Eropa dengan konstruksi yang tebal dan kokoh, atap yang tinggi, pilar yang besar, pintu dan jendela kaca.

Source Sejarah Batik Ponorogo Batik Ponorogo
Comments
Loading...