Sejarah Batik Naga Tapa Purbalingga

0 203

Sejarah Batik Naga Tapa Purbalingga

Salah satu motif batik yang terdapat di Kabupaten Purbalingga ialah batik naga tapa yang dibuat oleh Nyonya Soegiarti pada tahun 1940. Beliau merupakan salah satu cucu Bupati ke enam Purbalingga yaitu Ngabehi Dipaatmaja putra dari Raden Mas Tumenggung Dipakusuma II, lalu bergelar Raden Adipati Dipakusuma IV. Beliau diangkat sebagai bupati terhitung pada tanggal 4 September 1868 dengan masa jabatan 1868-1883.

Nyonya Soegiarti lahir di Purbalingga pada tanggal 28 Desember 1897. Beliau merupakan putri dari Raden Mas Taruno Saputro (menantu Raden Adipati Dipakusuma IV). Gelar kebangsawanan Nyonya Soegiarti yaitu Raden Ayu Soegiarti. Seperti halnya para putri bangsawan, Raden Ayu Soegiarti pun mempunyai keterampilan membatik. Beliau kemudian menikah dengan seorang pria yang lahir pada tanggal 1 Juli 1895 di Purbalingga yaitu Raden Mas Aboesono. Pria tersebut merupakan putra ke dua Patih Purbalingga yang menjabat pada tahun 1920-1938 yaitu Katamsi Hadmodipoero yang bergelar Raden Katamsi Hadmodipoero.

Raden Mas Aboesono merupakan Kepala Kantor Pos Purbalingga pada saat itu. Raden Mas Aboesono berserta isterinya tinggal di rumah dinas kantor pos Purbalingga yang berada di Kompleks Pemerintahan Purbalingga saat itu berdekatan dengan rumah dinas bupati Purbalingga. Demikian halnya, batik naga tapa yang dibuat oleh Raden Ayu Soegiarti juga dibuat di rumah dinas kantor pos Purbalingga. Batik naga tapa yang dibuat oleh Nyonya Soegiarti merupakan batik yang diciptakan dari sebuah kreatifitas yang terinspirasi dari motif klasik batik naga tapa.

Karya tersebut tercipta pada masa pemerintahan Raden Mas Aryo Soegondho yang bergelar Kanjeng Raden Adipati Aryo Soegondho. Beliau merupakan Bupati Purbalingga ke sembilan terhitung sejak tanggal 29 Oktober 1925, dengan masa jabatan 1925- 1942. Isteri padmi Kanjeng Raden Adipati Aryo Soegondho yaitu Gusti Ajeng Kusmartinah (putri Pakubuwana ke XI). kain batik naga tapa merupakan salah satu kain panjang yang digunakan saat bertugas pada masa pemerintahan Kanjeng Raden Adipati Aryo Soegondho.

Pakaian tradisional yang digunakan oleh bupati antara lain berupa kuluk, dasi kupu-kupu, rasukan pethak asta panjang, baju bludiran blenggen, sarung tangan, gantungan rantai, stagen, kamus dengan bludiran, timang, kain batik, selop dan keris. . Untuk pakaian para pejabat antara lain berupa blangkon, baju jas yang menutup leher, gantungan rantai, stagen, kamus, timang, kain batik dan selop.

Kain Batik Naga Tapa Purbalingga pada saat itu digunakan oleh Raden Mas Aboesono ketika bertugas sebagai Kepala Kantor Pos Indonesia. Pada saat pemerintahan Kanjeng Raden Adipati Aryo Soegondho kain batik dikenakan dengan cara membebatkannya pada pinggang kemudian ujung kain tersebut membujur diantara kedua paha. Ujung kain tersebut kemudian diwiru, namun garis putih yang terdapat pada ujung kain tidak diperlihatkan dengan cara ditekuk atau dilipat ke bagian dalam.

Motif Batik Naga Tapa Purbalingga terdiri dari naga, bangunan, dampar, gajah, burung, bajing, harimau, kijang, kumbang, pohon hayat dan tumbuhan. Pola Motif Batik Naga Tapa berupa pohon hayat yang dikelilingi oleh naga, bangunan, dampar, gajah, bajing, harimau, kijang, kumbang, burung dan tumbuhan. Warna Batik Naga Tapa Purbalingga yaitu putih, cokelat dan hitam. Sedangkan makna simbolik Batik Naga Tapa Purbalingga yaitu kesaktian, kekuasaan, dan kekuatan. Fungsi batik naga tapa pada zaman dahulu digunakan oleh pejabat pada saat bertugas.

Source http://eprints.uny.ac.id/23508/1/TAS_FULL-ok.pdf
Comments
Loading...