Sejarah Batik Liris Manis Majan

0 148

Sejarah Batik Liris Manis Majan

Pengrajin batik Majan terbilang sangat kreatif dan dinamis di jamanya terbukti mereka mampu membuat 3 babaran(motif warna batik)yaitu Bang bangan, wonopringgan dan Gajah mada, Gajah mada adalah kreatifitas terakhir yg di ciptakan seorang seniman batik Majan Bpk H, Sapuan tahun 1954 kesemuanya tergolomg motif tradisional.

Disebut Bang bangan karena warna merah batik ini sangat bagus/berkwalitas serta dominan,pewarnaan batik Bang bangan majan dan wonopringgan mayoritas menggunakan pewarna alam,pewarna merahnya menggunakan campuran kudu dan jirak/menteng untuk warna lain menggunakan tingi,teger jambal dll, Prosesnya pun sangat tradisional dan waktu yang diperlukan sangat lama.Sebagai contoh sebelum kain mori di batik perlu waktu sekitar 7 hari untuk mencuci mori tersebut. Kain mori di cuci[di uleni} dengan minyak kacang supaya pewarnaan dan pencantingan bisa maksimal, hal ini sangat penting karena pewarnaanya masih menggunakan pewarna alam. Dan untuk mempercepat proses produksi di awal tahun 1900 sudah digunakan canting cap untuk membuat batik cap. Karena proses produksi yg semakin lancar dan permintaan yang besar tersebut membuat batik Bang bangan Majan terkenal dan berimbas pada kesejahteraan masyarakat Majan. Motif batik cap pada masa Bang bangan antara lain Banji Sosi, Ambarawa dan sekar jagat.

Saat ini peninggalan motif batik Bang bangan yang asli di simpan di museum batik GKBI/Gabungan Koperasi Batik Indonesia di Jakarta, sumber info ini dari bpk Hari Mulyono 74th tokoh Majan dan pengurus koperasi BTA(Batik Tulungagung)yg pernah berjaya pada masanya. Bukti betapa tersohornya batik Bang bangan Majan adalah adanya kesuksesan/kesejahteraan para pengrajin batik Majan, padahal Nusantara masih dibawah cengkeraman penjajah Belanda kala itu, Salah satu contoh pengrajin batik Bang bangan yang sukses adalah bpk H.Ismail yang juga orang tua Bpk H.Sapuan penemu babaran Gajah Mada.

Padamasa itu penduduk Majan juga di dominasi orang orang dari Solo dan Yogyakarta,bahkan rumah yang saya tempati ini juga bekas milik orang Solo bernama Mbah Harjo tetapi pembuatnya bernama Mbah Abdul Rokim umur rumah ini kira kira lebih dari 150 tahun. Orang orang Majan mulai exodus/keluar dari Majan ketika Majan di landa banjir besar yang dinamakan banjir Jepang tahun 1942/masa penjajahan Jepang. Banjir yang melanda desa Majan terus menerus itu akhirnya juga menjadi inspirasi motif batik terutama pada era Gajah Mada. Inspirasi itu tertuang baik pada isen isenan(isian pada motif batik)maupun motif secara umum/garis besar. Salah satu contohnya adalah motif Lereng kayu mati, Iwak iwakan(ikan), Kembang Teratai dan lain lain. Khusus Lereng Kayu Mati menggambarkan suasana setelah banjir dimana banyak pohon pohon/kayu yang mati. Untuk Isen isenan yang terinspirasi dari banjir yaitu isen uget, kembang krangkong, semanggi, rawan dan lain lain.

Batik Gajah Mada mulai surut secara besar besaran ketika Printing/tekstil motif batik mulai di release sekitar tahun 70an.Dan tidak hanya batik Majan hampir seluruh industri batik di Nuasantara gulung tikar dan alih profesi karena kalah bersaing dengan Printing[tekstil bermotif batik]Mereka kalah bersaing dalam soal harga,kwantitas/kecepatan produksi dan tampilan warna.

Source http://lirismanis.blogspot.com http://lirismanis.blogspot.com/2013/12/sejarah-batik-liris-manis-majan.html
Comments
Loading...