Sejarah Batik Danar Hadi

0 379

Sejarah Batik Danar Hadi

Santosa Doellah merupakan anak ke 5 dari 10 bersaudara. Ayahnya sendiri seorang dokter anak. Kakek buyutnya, H. Bakri, adalah seorang pengusaha batik dan juga salah seorang tokoh Serikat Dagang Islam. Beliau sudah mengenal batik sejak berumur 15 tahun dari kakeknya, R. H. Wongsodinomo, yang merupakan pendiri Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Tak heran jika sejak kecil ia sudah terbiasa membuat desain batik, mengenal bermacam motif, menggunakan canting (alat untuk menggoreskan malam ke kain), pewarnaan dan nglorot (menghilangkan malam pada kain).

Saat menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi UNPAD di Bandung, beliau mulai berjualan batik yang beliau bawa dari Solo. Ketika skripsi, bisnis batiknya mulai berkembang sehingga beliau memilih berhenti kuliah. Setelah menikah, pada tahun 1967 beliau mendirikan Danar Hadi di Solo. Danar Hadi adalah gabungan dari nama depan istrinya, Danar, dan nama keluarga besar istrinya, Hadi. Dengan hadiah pernikahan dari kakek-neneknya berupa 29 pak kain mori dan 174 lembar kain batik beserta 20 orang karyawan, produksi pertama Danar Hadi adalah batik tulis Wonogiren yang merupakan adaptasi dari Motif Batik Klasik Keraton Solo. Dari hasil penjualan Batik Wonogiren, beliau membuka perkampungan batik di kawasan Singosaren tahun 1968. Tahun 1970 beliau mendirikan perkampungan serupa di Masaran, Sragen. Tahun 1975 (atau 1973) ia mendirikan sentra usaha batik di Pekalongan dan Cirebon.

Pada awal tahun 1980 Batik Danar Hadi mulai diekspor ke beberapa negara seperti Amerika Serikat, Italia dan Jepang. Tahun 1981 Santosa mendirikan perusahaan tenun dan finishing PT. Kusuma Hadi Santosa. Tahun 1990 beliau mendirikan perusahaan pemintalan benang katun PT. Kusuma Putra Santosa. Tahun 1991 beliau mendirikan usaha garmen PT. Kusuma Putri Santosa dan usaha furnitur Jawi Antik.

Meski pada tahun 1973 beliau pernah gagal membeli Ndalem Wuryaningratan (bekas istana bangsawan di Jalan Slamet Riyadi, Solo), pada tahun 1997 beliau berhasil membelinya seharga 27 milyar Rupiah. Setelah pemugaran selesai tahun 1999, istana seluas 1,5 hektar itu beliau buka sebagai Museum Batik Danar Hadi. Setelah dilengkapi Soga Resto & Cafe, museum lalu dinamakan House of Danar Hadi dan menjadi salah satu tujuan wisata di Solo.

Batik-batik kuno dikumpulkan sejak Santosa masih remaja. Ketika usaha batiknya mulai berkembang, hobi berburu kain batik langka semakin menjadi. Beliau rela datang ke kolektor maupun pemilik pertama untuk mendapatkan batik yang diinginkan. Santosa bahkan harus terbang ke Belanda untuk bisa mengoleksi selembar kain batik buatan tahun 1830. Alhasil, seluruh kain batik koleksi museum ini tergolong langka, berkualitas, dan tidak diproduksi secara umum lagi.

Kini Danar Hadi memiliki lebih dari seribu karyawan di seluruh tanah air dan menjadi salah satu merek batik paling terkenal di Indonesia selain Batik Semar dan Batik Keris.

Source http://infoseputarbatik.blogspot.co.id/ http://infoseputarbatik.blogspot.co.id/2014/09/sejarah-batik-danar-hadi.html
Comments
Loading...