Sejarah Batik Cenderung Terabaikan

0 127

Sejarah Batik Cenderung Terabaikan

Aspek kesejarahan tentang batik yang sarat dengan perubahan sosial, ekonomi, dan politik, seirama dengan perkembangan zamannya, cenderung terabaikan. Kondisi semacam itu, cukup mengkhawatirkan, sebab kesejarahan ini menjadi titik pangkal pengembangan komoditas multidimensional yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia asli Indonesia ini. “Betapa batik sepanjang sejarah”, ungkap Ketua yayasan Warna Warni Indonesia, Nina Akbar Tanjung.

Mengalami pasang surut dan selalu bergandeng erat dengan perubahan sosial, ekonomi,  politik, dan sebagainya. Bahkan batik pernah menjadi alat perlawanan kesetaraan status sosial ekonomi kaum bumi putera terhadap Belanda. Keberadaan Koperasi Batik Timur Asli Republik Indonesia (Batari) yang didirikan pada tahun 1937, adalah bentuk perlawanan terhadap dominasi Timur Asing (sebutan kaum bangsawan dan warga Belanda pada waktu itu).

Bahkan perlawanan juga dilakukan dalam penciptaan motif batik. Sebut saja motif batik karya Hardjonagoro yang diberi nama ‘kembang bangah’, bukan sekadar penciptaan motif baru, tetapi justru lebih mengedepankan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi dan politik pemerintah sekitar era tahun 1970-an yang berdampak pada kelesuan industri batik. Perlawanan tersebut, tersirat dalam makna folosofis motif ‘kembang bangah’ yang dinilai sangat detil serta bernuansa rasa sendu. Dalam kaitan melacak sejarah itu pula, Yayasan Warna Warni Indonesia bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Konferensi Batik Nusantara. Konsep konferensi, bukan sekadar talk show, tetapi juga disajikan karya-karya batik yang pernah menandai perubahan sosial serta dimensi kesejarahan pada zamannya. Pun venue konferensi dipilih Wisma Batari yang merupakan jejak sejarah masa kejayaan batik yang hingga kini masih bisa dilacak.

Beberapa karya yang pernah mewarnai sejarah pasang surut batik, jelasnya, diantaranya ciptaan Hardjonagoro, Iwan Tirta,  Mr Milo, seorang desainer asal Itali yang kini bermukim di Bali, Batik Motif ‘Basurek’ yang unik, dan sebagainya. Setidaknya, tampilan karya-karya tersebut, dapat dijadikan referensi kepada segenap pemangku kepentingan untuik mengembangkan batik ke depan, tanpa harus tercerabut dari akar budayanya, yakni motif klasik dan proses penciptaan. Kemajuan teknologi, memang tidak bisa dihindari, sebaliknya justru harus digali hingga menjadi kekuatan atas batik itu sendiri menghadapi tantangan ke depan. Sebagai contoh Nina menyebutkan, dalam hal pewarnaan, tak lagi bisa mengandalkan pola konvensional yang dari beberapa sisi memilikim kelemahan. Tetapi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, warna batik yang acapkali mudah memudar, memungkinkan direkayasa hingga lebih awet, selain pula menyiratkan keindahan, tanpa harus menyimpang dari proses pembuatan batik yang menjadi trade mark tersendiri.

Source http://krjogja.com/web/ http://krjogja.com/web/news/read/50783/Pernah_Menjadi_Alat_Perlawanan
Comments
Loading...