Sarwidi Sang IKon Batik Pewarna Alami Dari Desa Jarum

0 94

Sarwidi Sang IKon Batik Pewarna Alami Dari Desa Jarum

Sosok Sarwidi adalah sosok sederhana dengan pribadi yang senantiasa belajar, mencoba hal baru, mempunyai wawasan yang luas terutama batik pewarna alami. Tidak hanya itu Sarwidi juga memahami dunia bisnis, menjalin mitra, melakukan promosi dan pemasaran dengan cara yang terbuka, konsisten dengan janji dan berani berbagi pada siapapun yang mau bekerjasama dengannya. Tempaan hidup dan perjalanan masa lalunya telah membuat Sarwidi menjadi pengusaha sosial yang peduli dengan sekitarnya. Sarwidi dilahirkan di Pundung Rejo Klaten, 28 April 1972 dari keluarga sederhana,  bapaknya seorang tukang becak dan ibu pemburuh batik. Sebagai anak no 2 dari 5 bersaudara terasa sudah mempunyai tanggung jawab sejak kecil karena kondisi keluraganya. Ketika ada kerusuhan di Jakarta besar-besaran (1998) Sarwidi kecil memutuskan pulang ke desa, dengan meninggalkan gerobak, barang dagangan, dan bahkan uang hasil penjualan yang terlempar di got dan tidak berani memungut karena takut ditangkap aparat dan dituduh perusuh.

Setelah kembali ke desa, sempat beberapa bulan tak ada yang diperbuat dan akhirnya merantau ke Yogya sebagai penarik becak, dengan menyewa becak seharga Rp. 1500 per hari. Waktu itu tekadnya hanya bekerja dengan kondisi yang sangat terbatas seperti tidur di emper toko, mandi di mesjid, dan menyimpan bajunya di kotak penyimpanan di becak. Sarwidi berfikir tidak mungkin seperti ini terus menerus, akhirnya kembali merantau ke Jakarta sebagai penjual es potong dengan teman-temannya dari desa sebanyak 8 orang. Kegiatan ini hanya berjalan 4 bulan karena dirasa tidak cocok dengan gaya hidup teman-temannya. Pekerjaan lain pernah juga sebagai pengelas baja di lantai 9 dan pembersih puing. Akhirnya dengan berbekal uang dari hasil kerja di Jakarta, Sarwidi kembali ke kampung halamannya dan membeli becak untuk mencari nafkah di Jogya.

Pengenalannya pada batik, justru ketika menjadi buruh pencelup batik pewarna kimia di salah satu perusahaan milik tetangganya, selama bekerja dikirim oleh desa untuk mengikuti pelatihan pewarna alam yang diselenggarakan oleh Balai Besar di Yogya yang didanai oleh JICA. Kejadiannya setelah gempa besar di Yogya. Sepulang dari pelatihan, keinginan untuk mengembangkan usaha batik pewarna alam begitu besar, namun terbentur kondisi untuk memulai usaha.Akhirnya atas restu istrinya 2 becak yang dimiliki di Yogya dijual seharga Rp. 950.000 untuk modal usaha. Sejak saat itu tak kenal lelah Mas Sarwidi dan istrinya saling bahu membahu mencoba usaha batik pewarna alam. Waktu itu hanya membuat 5 potong, kemudian dengan sepeda dijajakan ke Yogya, ke tempat perumahan yang dulu dia sering mbecak. Respon pasar waktu itu belum begitu ramai seperti sekarang, batik pewarna alam masih belum dikenal oleh banyak orang. Dimulai dari yang kecil mendapatkan order pelanggan becaknya untuk membuat taplak meja. Untuk modalnya sempat meminjam ke tempat kakaknya.

Suatu saat, ketika sedang berteduh karena hujan, ada seorang turis yang terjatuh bernama Sonya (perempuan dari Korea), lalu Sarwidi menolong dan akhinya Bu Sonya tertarik melihat dagangan Pak Sarwidi dan kemudian dibeli, bahkan kemudian mendapatkan pesanan yang lumayan dari ibu Sonya. Sejak saat itu Mas Sarwidi mempunyai pelanggan tetap dari orang manca negara karena cerita dari mulut ke mulut tentang batik alam yang dibuatnya.

Desa Jarum, tempat Sarwidi membuka usaha, pada awalnya belum begitu ramai seperti sekarang, setelah Sarwidi eksis sebagai pengrajin batik ahli pewarna alam, banyak pengrajin sekitarnya yang melakukan hal sama. Sarwidi tidak segan untuk berbagi ilmu tentang tehnik pewarnaan alam ini. Ketrampilan Sarwidi tidak hanya kepiawaiannya menguasai berbagai jenis tanaman untuk pewarna alami, melainka juga mendesain batik-batik kontemporer sesuai pesanan. Kesibukannya saat ini, selain terjun langsung menangani batik juga menjadi guru/pelatih baik untuk kalangan anak sekolah, pengrajin baru, kelompok usaha maupun pemerintah daerah. Sarwidi sudah melatih sekitar 560 orang, yang semuanya telah menjadi pengrajin sendiri dan mandiri dengan usaha yang ditekuni.

Saat ini usahanya diberi nama Batik Natural Sarwidi, yang mempunyai 14 orang tenaga tetap pembatik, 60 orang tenaga yang membatik di rumah, 7 orang tenaga tetap laki-laki. Mereka adalah tetangga sekitar yang sebelumnya tidak mempunyai pekerjaan. Sarwidi melatih anak-anak muda yang tidak punya pekerjaan kemudian menjadi tenaga kerja di tempatnya. Rumah Sarwidi tidak pernah sepi, hampir setiap malam banyak pemuda yang datang bertukar pengalaman dan berbagi motivasi untuk mendukung usaha yang sedang ditekuni, salah satunya sudah berhasil menjadi pengusaha jasa jahit dan sablon kaos pewarna alami. Apabila diundang sebagai pelatih Sarwidi akan mengajak orang sekitar yang sudah dipercaya bisa menemani menjadi asisten untuk melatih.

Tawaran untuk menjadi pengajar atau bekerja di tempat lain sudah banyak, namun Sarwidi lebih menyukai menjadi pelaku usaha sendiiri, karena kehadiran lebih dirasakan bagi masyarakat sekitar. Misalnya: menciptakan lapangan kerja baru, memotivasi anak-anak mudah untuk menjadi pengusaha sendiri dan tidak harus keluar desa menjadi TKI, berbagi lebih banyak sebagai pelatih, mengajak anak-anak kecil mencintai budaya batik. Dalam menjalankan usahanya Sarwidi sudah memperhitungkan secara tepat, penggunaan air, penampungan air limbah (IPAL), perlindungan untuk tenaga kerja dengan sarung tangan, penggunaan malam/lilin daur ulang. Sehingga memang sangat effisien dan ramah lingkungan. Bahan pewarna alami diperoleh dari pohon dan limbah kayu di sekitarnya yang lebih dari 10 jenis tanaman.

Source http://binaswadaya.org/bs3/?lang=id http://binaswadaya.org/bs3/sarwidi-sang-icon-batik-pewarna-alami-dari-desa-jarum/
Comments
Loading...