Rumah Pesona Batik Dalam Membudidayakan Batik Kudus

0 208

Peran Rumah Pesona Batik dan Masyarakat dalam membudidayakan Batik Kudus

Perhimpunan Rumah Pesona Kain (RPK) beberapa waktu lalu, yang berkolaborasi dengan Divisi Program Apresiasi Budaya, Djarum, melalui Batik Kudus. Adalah Rumah Pesona Kain (RPK) yang konsisten membina pembatik dan menyalurkan produk Batik Kudus ke berbagai kalangan, termasuk di Jakarta. Batik Kudus dikenalkan kembali, tak hanya sebagai kain yang oetentik dengan batik tulis, tetapi juga dikenal sebagai busana siap pakai karya perancang ternama seperti Barli Asmara.

Batik Kudus pada perhelatan tahunan RPK kali ini tampil dengan motif warna-warni daun tembakau. RPK juga mendatangkan batik buatan perajin Yuli Astuti dan Youke Yuliantaries. Replika Batik Kudus kuno juga ditampilkan dalam acara yang berisi pameran, demo membatik, bazar batik Kudus, serta hidangan kuliner tradisional khas Jawa Tengah. Rangkaian acara yang berlangsung dalam beberapa jam ini ingin menarik perhatian kolektor, pecinta batik, serta masyarakat umum untuk mengapresiasi dan mengenakan batik khas dari Kudus.

Selama pembuatan batik masih menggunakan lilin, hasil akhirnya bisa dikatakan kain baik. Namun jika sudah printing, tak lagi bisa dibilang batik tetapi disebut tekstil printing bermotif batik. Pemahaman yang sama mengenai konsep membatik ini juga dimiliki RPK. Ade mengatakan, setelah melewati satu tahun menjajaki proses kerjasama dengan Djarum Foundation, desain batik Kudus RPK akhirnya dipilih yayasan ini dalam program “Djarum Apresiasi Budaya”.

Keunikan Motif Batik Kudus, dan keterikatan daerah memunculkan sinergi Djarum Foundation dan RPK untuk mempopulerkan Batik Kudus. Mulai 2011, Yayasan Djarum meluaskan jangkauan program Apresiasi Budaya dalam ranah fashion. Batik Kudus, diakui Ade Krisnaraga Syarfuan, dari RPK, tidak hanya bermotif multikultur, warnanya pun sangat kaya, lantaran perpaduan budayanya. Menurut Ade, batik Kudus memiliki pengaruh Arab (kaligrafi) lantaran Kudus berdekatan dengan Demak, yang identik dengan penyebaran ajaran Islam. Warna cokelat dan hitam juga memperkaya warna batik Kudus. “Keunggulan batik tulis Kudus, misalnya, sangat unik dan bernilai, sangat wajar bila harganya mahal mencapai jutaan rupiah. Namun kini kami membuat replika dari batik kuno hingga bisa dijual dengan harga lebih murah atau berkisar ratusan ribu,” ujarnya.

Menurut Ade, batik Kudus sempat menghilang karena masyarakat mulai meninggalkan kegiatan membatik. “Faktor lainnya, karena tidak ada lagi yang mengenakan batik Kudus. Tetapi RPK memberikan perhatian untuk melestarikan warisan leluhur, termasuk batik Kudus. Kami pun melakukan pembinaan supaya batik pinggiran ini naik kelas dan masuk ke peringkat papan atas,” ujarnya.

Berbagai motif kain otentik pada batik Kudus yang selama ini dikenal dengan batik peranakan yang halus dengan isen-isen rumit, seperti gabah sinawur, moto iwak, atau mrutu sewu. Batik ini berwarna sogan (kecokelatan) seperti umumnya batik Jawa Tengah.  Pembina perajin Batik Kudus, mengatakan keunikan batik Kudus memiliki perkembangan warna dan motif yang indah. “Seperti warna dan Motif Kupu-Kupu, Daun Tembakau, yang dikembangkan bekerja sama dengan perajin Youke Yuliantaries. Hal ini menjadi salah satu terobosan agar batik Kudus bisa melaju atau naik kelas, dan harapannya, penggemar pun semakin meningkat,” ujar Miranti.

Source Peran Rumah Pesona Batik dan Masyarakat dalam membudidayakan Batik Kudus Batik
Comments
Loading...