Rudolft G. Smend Kolektor 2.000 Batik Indonesia asal Jerman

0 86

Rudolft G. Smend Kolektor 2.000 Batik Indonesia asal Jerman

Perawakannya tinggi, suaranya lembut dan berbicaranya lambat. Usianya saya taksir di atas 70 tahun. Kami berbicara sebentar berbasa-basi sebentar saling menanyakan kegiatan masing-masing. Sebelum akhirnya menuju topik utama kami hari itu, batik. Banyak ahli batik Eropa menyebut Rudolf G Smend sebagai connoisseur batik. Pecinta, sekaligus kolektor dan ahli batik Indonesia. Koleksi batik tuanya berjumlah sekitar 2.000 lembar.

Pak Smend menceritakan perkenalannya dengan batik. Tahun 1972, ia dan calon istrinya melakukan perjalanan dari Jerman menuju Australia untuk beremigrasi. Melewati beberapa negara Asia, seperti Afganistan, Malaysia, dan Indonesia. Tanpa sengaja, ia mengenal kain batik, jatuh cinta, memutuskan kembali ke Jerman. Lalu mendirikan sebuah galeri batik di Jalan Mainzer Strasse, Cologne, Jerman. Mereka menjual batik Indonesia.

Saat itu, batik belum terlalu dikenal di Jerman, sehingga banyak orang pesimistis, galeri bakal bertahan lama. Nyatanya bertahan hingga lebih dari 40 tahun kemudian. Batik sempat menjadi tren mode di Jerman pada akhir tahun 1970-an hingga awal 1980-an. Tak hanya batik Indonesia, namun juga berasal dari Malaysia dan Srilanka.

Galeri Smend tak hanya menjual pernak-pernik batik dan kain batik. Namun juga mengundang ahli-ahli batik dari Jawa untuk datang dan mengajar seni batik. Bersama dengan ahli batik Eropa dan Amerika, Smend menulis buku tentang batik, atau membagikan expertise berkenaan dengan batik kuno. Dan Smend menghadiahi saya buku terbarunya berjudul Batik, Traditional Textiles of Indonesia. Terbitan tahun 2005. Berisi koleksi batik-batik kuno Jawa, Madura, dan Sumatera antara akhir tahun 1800-an hingga 1930-an.

Museum Batik Pribadi

Museum batik pribadi Smend. Letaknya hanya beberapa meter dari Galeri Smend. Didirikan sejak tahun 2010, museum lima ruangan ini menyimpan banyak sekali pernak-pernik yang berhubungan dengan dunia seni batik. Tempat ini gratis dikunjungi oleh siapa saja. Asal membuat janji terlebih dahulu dengan mengirim email atau menelepon.

Satu sisi dinding ruangan pertama museum yang saya masuki penuh dengan cap-cap batik berbagai model. Pak Smend menerangkan sambil mempraktikkan aplikasi dua cap di satu kain. Cap-cap batik ini kebanyakan didapatkan gratis dari pengusaha batik yang tak membutuhkannya lagi.

Foto-foto kuno menghiasi satu lorong sempit. Semuanya objek foto di dalamnya mengenakan kain batik. Pak Smend juga punya puluhan canting tua. Termasuk canting batik Malaysia dan Srilanka. Semakin banyak ruangan dan barang pamer beliau tunjukkan.

Source http://surabaya.tribunnews.com/ http://surabaya.tribunnews.com/2016/12/12/jatuh-cinta-pada-pandangan-pertama-robert-g-smend-kolektor-2000-batik-indonesia-asal-jerman
Comments
Loading...