Raih Untung dari Batik Lawasan

0 181

Raih Untung dari Batik Lawasan

Sebagai orang Bali, darah seni Dayu Jiwa nampaknya sudah mengalir sejak kecil. Namun sayangnya ia memutuskan untuk melanjutkan usaha keluarganya untuk mengurus restoran Hydepark Corner di Sanur.  “Pada suatu ketika saya mulai tertarik dengan batik, karena ada teman saya dari Inggris yang menantang saya untuk kenal lebih jauh dengan batik,” tukas Dayu. Merasa tertantang untuk mengenal batik asli, atas anjuran temannya Dayu lantas menuju ke desa Kerek di Jawa Timur pada tahun 2003. Nasib baik berpihak padanya, karena secara kebetulan ia bertemu dengan seorang pengrajin batik yang baik. Dalam waktu dua minggu, Dayu akhirnya menguasai teknik membatik dengan baik.

Dayu pun berpikir untuk membuat kreasi batik tulis yang menonjolkan ciri khas Bali. Pada awalnya ia sempat mendapat pertentangan dari “guru-guru” batiknya karena motif batiknya dianggap menyalahi pakem yang ada. Dayu sendiri mengganggap bahwa aliran yang digunakannya adalah aliran suryalisme, dimana ia memodifikasi motif naga yang sudah ada menjadi sedikit berbeda. Ia membuat motif naga itu tampil lebih panjang dan sedikit berbeda, atau memodifikasi motif semeru dengan model tambahan motif lainnya. Kecintaan pada seni batik akhirnya membuat Dayu mengambil satu langkah besar untuk menjual restorannya tahun 2004 dan mulai mengolah batik. Suatu saat ketika sedang pulang ke kampung halaman sang suami di Belanda, hatinya pun langsung tertarik dengan sebuah desain baju poncho.

Setelah mendapatkan model yang diinginkan, Dayu lantas terpikir untuk mulai memberdayakan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya untuk membantunya menjahit. Untuk mendapatkan hasil baju poncho batik yang diinginkan, Dayu pun harus rela untuk membongkar baju-baju contoh agar polanya sesuai dengan aslinya. Bahan-bahan baju batik yang dibuat seringkali menyisakan potongan-potongan kain, atau yang disebutnya limbah batik. Atas inspirasi dari suaminya, Dayu pun memanfaatkan limbah batik ini untuk memodifikasi poncho buatannya. Ia menggunakan teknik bolak-balik di bagian dalam dan luar bajunya.

Untuk menghasilkan kreasi yang benar-benar beda, Dayu lebih suka membuat baju batik dengan menggunakan kain lawasan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan warna yang unik. Hanya saja, ia kerap terkendala menemukan batik lawasan yang benar-benar sesuai keinginannya. Akhirnya ia pun mencoba “melawaskan” sendiri kain tersebut dengan berbagai cara. Dayu mengaku butuh waktu yang cukup lama untuk membuat sebuah baju batik lawasan bergaya bolak-balik ini. Selain butuh waktu untuk memberi efek lawas, ia pun butuh waktu lama untuk mengombinasikan warna-warnanya, serta berkreasi dengan berbagai model dan warna maupun teknik penjahitannya.

Tak disangka, batik buatannya ini ternyata laku keras di pameran tersebut, dan terjual 300 potong. Hal ini  semakin menambah kepercayaan dirinya untuk terus memasarkan batiknya. Berbekal keunikan batik, model baju, serta teknik penjahitan yang rapi, beberapa kali ia sempat bekerjasama dengan desainer Anne Avantie untuk mendesain busana dengan Batik Lawasan. Meski tak memiliki toko sendiri untuk menjual baju-bajunya, Dayu mendapatkan tawaran untuk menjual produk Batik Ijen Lawasan di Alun-Alun Grand Indonesia, Debenhams, serta pameran-pameran besar lainnya di Jakarta.

Kini untuk setiap pameran, ia bisa menjual sekitar 500-600 potong baju, dan keuntungan yang diraupnya dari beberapa department store yang menjual produknya bisa berkisar antara Rp. 20 juta per bulan. Sampai saat ini meski sudah terbilang sukses membesarkan label Batik Ijen Lawasan, Dayu masih tetap menghadapi kendala, di antaranya adalah masalah pekerja. Untuk semakin menyemangati dirinya dalam berbisnis, Dayu selalu berpedoman pada keyakinannya untuk berani berekspresi, berani mencoba, dan melangkah.

Source http://infoseputarbatik.blogspot.co.id/ http://infoseputarbatik.blogspot.co.id/2015/04/raih-untung-dari-batik-lawasan.html
Comments
Loading...