Proses Pembuatan Batik Tulis Gumelem Produksi Tunjung Biru

0 318

Proses Pembuatan Batik Tulis Gumelem Produksi Tunjung Biru

Proses pembuatan pada batik dari Industri Tunjung Biru memiliki persamaan dengan proses pembuatan dari batik-batik lain pada umumnya di Desa Gumelem maupun didaerah lain. Yang membedakan pembuatan batik di industri ini dengan yang lain terletak pada penggunaan dari alat yang dinamakan pisau penurat, yaitu sejenis pisau yang digunakan untuk menyosrok lilin malam yang akan diberi warna. Terdapat dua teknik membatik yang biasa digunakan dalam pembuatan batik di Tunjun Biru yaitu batik tulis dan batik cap. Tetapi Tunjung Biru lebih sering memproduksi pembuatan batik tulis dibandingkan pada batik cap, karena memang kebanyakan dari Batik Gumelem juga dibuat dengan menggunakan teknik batik tulis.

Proses pembuatan dari Batik Gumelem “Tunjung Biru” adalah sebagai berikut :

Tahap persiapan membatik :

1) Kain mori yang akan digunakan untuk membatik dikemplong agar serat kain menjadi lemas dan kendor untuk mempermudah penempelan malam pada kain.

2) Mulai menentukan motif batik yang akan dibuat.

3) Setelah dikemplong dan menentukan motif batik, maka kain mori mulai dipola dengan motif sesuai kebutuhan, tergantung motif batik seperti apa yang akan dibuat. Ada juga yang langsung membatik tanpa menggunakan pola terlebih dahulu yang disebut dengan ngrujak. Tetapi ini hanya dilakukan oleh pembatik yang sudah ahli.

4) Menyiapkan gawangan yang akan dipakai pembatik untuk membeberkan kain, alat untuk ngejos tetesan lilin yang kemungkinan menetes pada kain mori, mencairkan lilin malam, serta alat-alat lain yang akan digunakan dalam proses pembatikan.

5) Setiap sebelum canting yang berisi malam akan dituangkan pada kain mori, pembatik akan meniup ujung canting terlebih dahulu agar malam tidak menetes sebelum ujung canting ditempelkan pada mori dan menjegah cucuk canting menjadi berlumuran malam karena akan mengurangi baiknya goresan pada kain mori.

Tahap membatik

1) Langkah pertama yang dilakukan pada kain mori disebut dengan ngrengreng, saat proses ngrengreng ini yang dilakukan pertama kali adalah membatik kerangka atau sering disebut juga dengan nglowong.

2) Setelah nglowong telah dilakukan pada seluruh permukaan kain mori, maka tahap selanjutnya adalah pemberian isen-isen pada pola yang sudah diklowong.

3) Setelah seluruh permukaan kain mori penuh dengan pola yang sudah di malam dan diberi isen-isen, maka akan berlanjut ke tahap selanjutnya yaitu nerusi.

4) Selanjutnya akan dilakukan proses penembokan pada kedua sisi kain mori yang biasa disebut mbliriki. Tujuan dari proses ini adalah untuk menutupi bagian pola yang di inginkan tetap berwarna putih, atau untuk diwarna dengan warna yang lain.

Tahap pewarnaan

Terdapat dua macam cara pewarnaan dalam pembuatan batik di “Tunjung Biru”, yaitu dengan menggunakan pewarna indigosol dan naptol, berikut ini adalah cara pewarnaan dengan pewarna indigosol :

  1. Langkah pertama kain yang akan digunakan dicelupkan terlebih dahulu pada air bersih dan ditiriskan dengan meletakannya di atas gawangan.
  2. Pembuatan warna dengan mencampurkan antara indigosol warna tertentu dengan sedikit air kurang lebih 10 ml dan diaduk. Buat juga larutan nitrit 250 gr dengan menggunakan air yang panas kurang lebih sekitar 10 ml dan diaduk rata sampai larut. Selanjutnya, kedua larutan yang telah dibuat tadi dicampurkan menjadi satu antara larutan indigosol dan nitrit, lalu diaduk agar tercampur sampai merata. Kemudian, sebelum digunakan untuk mencelup masukan terlebih dahulu 800 ml air dingin, lalu diaduk sampai benar-benar tercampur.
  3. Selanjutnya buat larutan HCL untuk melarutkan 10 cc HCL, kemudian dilarutkan dengan 1 liter air dingin. Lalu air dituangkan pada tempat yang telah dipersiapkan, dan masukan HCL aduk rata hingga semua tercampur.
  4. Kain yang sudah dibasahi dengan air dan kering tadi mulai dicelupkan ke dalam larutan indigosol dan nitrit selama kurang lebih sekitar 5 menit, sambil sesekali di balik. Selesai mencelupkan pada kedua larutan indigosol dan nitrit, maka untuk membangkitkan warna, kain yang telah dicelupkan ke dalam larutan pewarna tadi dibeberkan di bawah sinar matahari tanpa ada bayangan dari pepohonan, tumbuhan, maupun benda lain, selama kurang lebih 15 menit, atau bisa juga dengan didiamkan diruangan biasa selama 1 malam dengan menggunakan penerangan, yaitu lampu neon.
  5. Apabila pewarnaan telah sesuai dengan yang diinginkan, kain bisa langsung dicelupkan pada larutan HCL sebagai pengunci warna. Kemudian kain yang telah dicelupkan pada larutan HCL tadi dicuci/dibilas terlebih dahulu. Setelah itu, kain diangkat dan diangin-anginkan. Maka pewarnaan pada tahap pertama telah selesai.
  6. Pada tahap pewarnaan yang kedua, pola yang telah diwarna pertama dapat ditutup kembali dengan malam agar tidak tercampur dengan warna kedua pada pola yang berbeda warna. Sebelum mulai mewarna kedua, bagian yang tadinya tertutup malam pada proses pewarnaan pertama akan dikerok dengan menggunakan alat yang dinamakan penurat.

Pada cara pewarnaan yang telah dijelaskan sebelumnya dengan menggunakan pewarna indigosol, berikut ini merupakan cara pewarnaan dengan menggunakan pewarna naptol :

  1. Kain yang telah diberi pola dengan malam dibasahi dengan larutan TRO, lalu angkat dan diletakan diatas gawangan tanpa diperas.
  2. Sambil menunggu kain tuntas, tahap selanjutnya adalah membuat larutan naptol dan garamnya. Serbuk naptol dan kaustik soda dilarutkan dengan air panas, setelah tercampur, jadikan satu dengan sisa larutan TRO aduk sambil ditambahkan 1 liter air dingin.
  3. Setelah kain yang telah dibasahi larutan TRO pada tahap pertama kering, maka selanjutnya kain dapat dicelupkan pada larutan naptol lalu diangkat dan ditiriskan.
  4. Selanjutnya sambil menunggu kain yang dicelupkan pada larutan naptol tuntas, larutkan garam diazo sebagai pembangkit warna. Garam dilarutkan dengan menggunakan sedikit air dingin, setelah tercampur maka larutan garam tadi ditambahkan 1 liter air dingin.
  5. Setelah kain yang dicelupkan kedalam larutan naptol telah tuntas, lalu kain dapat dicelupkan kedalam larutan pembangkit warna untuk mendapatkan warna yang diinginkan.

Tahap pelorotan

Untuk proses penglorotan yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah memasak air hingga mendidih dengan memasukan larutan kanji dan abu soda. Kemudian, kain yang akan dilorot dimasukan kedalam air mendidih yang telah dicampuri dengan larutan soda abu. Diamkan kain sebentar di dalam air mendidih tersebut agar malam yang menempel pada kain dapat meleleh dengan sempurna. Selanjutnya kain harus diaduk dan dibalik didalam rebusan agar malam lepas dari kain. Setelah beberapa lama direbus, angkat dan kemudian celupkan kain ke dalam air dingin sambil dikucek dengan hati-hati agar malam yang masih menempel pada kain bisa rontok. Setelah semua proses itu sudah dilakukan, maka kain batik sudah siap untuk dikeringkan.

Source Proses Pembuatan Batik Tulis Gumelem Produksi Tunjung Biru Batik
Comments
Loading...