Proses Akulturasi Budaya Batik Lasem

0 108

Proses Akulturasi Budaya Batik Lasem

Batik Lasem merupakan ekspresi dari proses akulturasi budaya yang diakibatkan datangnya pedagang dari berbagai wilayah dan sempat berinteraksi dengan masyarakat lokal. Proses pencampuran budaya terlihat dari motif dan warna batiknya sendiri. Terjadi pengembangan terhadap hasil produksi batik. Beberapa wilayah yang diperkirakan mempengaruhi pembuatan batik Lasem adalah budaya Tiongkok, Jawa, Champa India Belanda dan Islam. Budaya Tiongkok terlihat dari Motif Burung Phoenix (Hong), Naga (Liong), Unicorn (kilin) Ikan Mas, Figur Dewa-Dewi, Swastika, Kelelawar, Bunga Pheony, Bunga Seruni, Buah Delima banyak ditemukan sekitar tahun 1800-1942. Pembatik sekaligus konsumennya sendiri sebelum tahun 1990an adalah Tionghoa selain komunitas Minangkabau, Palembang, Jambi, Bali dan Suriname.

Warna budaya Jawa yang terdapat dalam Batik Lasem terjadi dalam dua cara yaitu :

  1. Kombinasi motif dan warna Jawa-Tiongkok pada desain batik Lasem, misalnya batik tiga negara yang memiliki warna merah, biru dan coklat/ soga.
  2. Diproduksi batik bernuansa Jawa di beberapa tempat sekitar Lasem, yaitu Kauman dan Warugunung. Batik jenis ini dihiasi dengan motif Jawa pedalaman (udan liris, kaung) yang dikombinasikan dengan motif khas Lasem seperti burung Hong dan tumbuh-tumbuhan lokal.

Pengaruh budaya Champa tertulis dalam buku Serat Badrasanti. Menyebutkan bahwa putri Na Li Ni dari Champa mengajarkan teknik pembatikan di Lasem kepada anak-anak dan tetangganya di daerah Kemandhung. Putri Na Li Ni adalah istri dari Bi Nang Un seorang nakhoda kapal dalam armada laut laksamana Ceng Ho dari dinasti Ming Tiongkok yang mendarat di pantai Regol lasem pada tahun 1413. Kajian terhadap gambar keramik Hoi Anh (Champa) abad 15 yang diangkat dari reruntuhan kapal di lepas pantai Vietnam. Motif tujuh titik (nyuk pitu), sisik, dan segi tiga (untu walang dan tumpal pucuk rebung). Beberapa peneliti barat memperkirakan batik Lasem dipengaruhi oleh motif kain Chintz asal Coromandel India. Perkiraan ini didasarkan bentuk stilisasi sulur tanaman berbunga pada Chintz amat mirip dengan motif Lung-lungan dan buket Lasem. Belanda memberi pengaruhnya sendiri pada motif Buketan walaupun tidak digambar secara naturalis sebagaimana pengusaha Belanda di Pekalongan.

Adopsi budaya sangatlah memungkinkan terjadi di tanah Nusantara karena secara geopolitik strategis. Keterbatasan teknologi transportasi membuat interaksi penduduk lokal dengan orang dari negeri seberang berlangsung dalam waktu cukup lama. Pelayaran pada masa lalu ketika mesin uap belum ditemukan sangat tergantung oleh arah angin. Bandingkan dengan globalisasi yang berhasil menjadi mainstream dunia saat ini. Ketika teknologi terus berkembang dan berhasil menjawab tantangan dunia komunikasi sehingga jarak bukan menjadi masalah yang terlalu signifikan. Berbagai bentuk budaya terpampang jelas dihadapan kita melalui kotak ajaib bernama televisi. Disinilah kearifal lokal dibutuhkan sebagai penyaring bagi hilir mudiknya tradisi dari luar. Bukan tidak mungkin terjadi kontradisksi diantara keduanya.

Source Proses Akulturasi Budaya Batik Lasem Batik
Comments
Loading...