Poniyem, Buruh Batik Yang Kini Mandiri

0 103

Poniyem, Buruh Batik Yang Kini Mandiri

Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Klaten sudah dinyatakan sebagai Desa Batik karena hampir seluruh warganya menekuni kerajinan batik tulis.

Perkembangan batik di desa Kebon semakin bagus sejak UNESCO hadir ikut mendukung peningkatan kreativitas perajin dengan melakukan inovasi dan membuat motifmotif khas desa setempat. Salah satu perajin yang menekuni usaha batik tulis adalah Poniyem warga Dukuh Mejan, Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Klaten.

Keterampilan ibu tiga anak itu dalam membatik didapat secara turun temurun dari orang tuanya. Sama seperti warga lainnya, karena hampir seluruh warga Desa Kebon bisa membatik. ”Saya menekuni batik sejak kecil tapi hanya menjadi buruh. Dulu jadi buruh batik selama 41 tahun. Namun, setelah mendengar batik Kebon diresmikan UNESCO, saya kok jadi semangat untuk membikin batik sendiri, saya sudah bisa memproses batik sampai dengan pewarnaannya,” ujar Poniyem yang mengenakan jilbab warna krem.

”Tahun 2012, batik saya lolos saat diseleksi Dekranas Jakarta termasuk batik yang halus-halus, sehingga diikutkan lomba yang diadakan UNESCO di Serawak, Malaysia. Alhamdulillah, batik motif burung Pelataran Rembyangan dengan warna soga indigo (biru) berhasil mendapatkan pernghargaan tertinggi,” ujar dia. Setahun kemudian, pada 2013, batiknya yang dinilai halus kembali diikutkan lomba batik tingkat nasional. Prestasi itu membuatnya lebih bersemangat untuk membesarkan usaha Batik Retno Mulyo, dibantu suaminya

Source https://www.suaramerdeka.com https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/157084/poniyem-buruh-batik-yang-kini-mandiri
Comments
Loading...