Pilih Serba Instan, Regenerasi Pembatik Stagnan

0 115

Pilih Serba Instan, Regenerasi Pembatik Stagnan

Alunan musik gamelan terdengar merdu diikuti lantunan tembang Jawa. Di atas panggung terlihat beberapa penari berlenggak-lenggok dengan membawa sehelai kain batik yang sesekali dikibaskan dengan indahnya. Di panggung ditampilkan cerita perjalanan seorang pemuda dalam pencarian kain batik. Awal cerita pemuda ini memulai dengan memiliki kain putih. Kemana pun pemuda itu pergi kain itu dibawanya. Sampai suatu ketika dia berada di sebuah kampung pembatik.

Dari sini sang pemuda mulai belajar mengenai indahnya memberikan warna pada kain batik. Sampai pada akhirnya pemuda ini sukses membawa batik ke daerah lain dan menjadi suadagar batik. Kisah ini merupakan cerita tentang cikal bakal pengembangan batik dari Laweyan. Pertunjukan ini disuguhkan di acara peringatan Hari Batik Nasional (HBN) yang digelar oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI) di Ndalem Gondosuli Laweyan, Solo. Aksi ini sekaligus sebagai bentuk dorongan kepada generasi muda agar terus mencintai batik. 

Ketua Panitia Hari Batik Nasional (HBN) Titiek Iemawati mengatakan, motif batik yang tercipta ini kebanyakan dari saudagar batik. Ini menjadi cermin majunya perekonomian batik di Solo, khususnya Laweyan yang memang perkembangan batiknya cukup pesat. Namun sayangnya saat ini jumlah pembatik sudah mulai menyusut.  Ditambah lagi persoalannya banyak generasi muda yang akhirnya hanya mau instan. Padahal, untuk mengerjakan batik tulis prosesnya sangat lama dan sangat sedikit yang ingin belajar. Sehingga perajinnya pun lama-lama punah.

 Alasan utama orang tidak mau menjadi pembatik karena pemghasilannya minim.  Maka dari itu ada upaya sosialisasi membatik sebagai kebiasaan pada generasi muda. Selain persoalan regenerasi, tantangan lainnya yang dihadapi yakni bahan baku. Di mana masih banyak bahan baku kain batik yang didatangkan dari luar negeri. Karena itu perlu adanya inovasi perajin agar bisa memproduksi batik secara mandiri. Sehingga batik juga bisa lebih murah dari proses pembuatannya. Pemilik Ndalem Gondosuli, Heru Notodiningrat menambahkan bahwa pembelajaran yang penting adalah nguri-uri budaya batik. Apalagi saat ini perajin batik juga sangat minim dan hampir punah. Untuk melestarikan batik ini adalah dengan menggelar kegiatan lomba batik, memberikan workshop batik secara terbuka dan beberapa kegiatan lainnya.

Kota Solo yang memiliki sejarah kuat mengenai batik, saat ini hanya tinggal memiliki 50 pembatik di Laweyan. Maka dari itu pentingnya regenerasi agar batik ini bisa dikenal secara prosesnya mulai dari anak-anak hingga dewasa. Sementara itu, Wakil Wali Kota Surakarta Achmad Purnomo mengatakan bahwa batik ini memiliki potensi luar biasa di Solo. Apalagi banyak perajin yang memiliki potensi untuk dikembangkan, terlebih Solo juga didukung banyak pembatik profesional.  Dibandingkan batik dari kota lain yang telah melakukan perjalanan transformasi panjang dengan filosofinya, Solo masih mempertahankan tradisi sejak dulu.

Source https://radarsolo.jawapos.com/ https://radarsolo.jawapos.com/read/2018/10/03/97373/pilih-serba-instan-regenerasi-pembatik-stagnan
Comments
Loading...