Pesona Batik Melanglang Jagat

0 72

Pesona Batik Melanglang Jagat

Menggoreskan gambar dengan canting rupanya tidak mudah. Itulah yang dipelajari lima mahasiswa asing di Universitas Kristen Petra.

Mereka adalah Aniello Iannone dari Italia, Lee So-yeong dan Song Yu-jeong dari Korea Selatan, serta Bassoree Wani dan Jiraphat Sirichon dari Thailand. Mereka penerima beasiswa Darmasiswa.

Darmasiswa adalah program beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Lebih tepatnya dari Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri.

Tujuannya memberikan kesempatan bagi mahasiswa asing untuk mengenal budaya dan bahasa Indonesia selama satu tahun.

Sejak 5 September, lima mahasiswa asing itu memulai kegiatan perkuliahan di UK Petra. Meski belum ada sebulan, sudah banyak yang mereka pelajari.

Selain membatik, mereka belajar melukis topeng, mengetahui pembagian wilayah Indonesia, dan mempelajari bahasa.

Lee So-yeong, salah seorang peserta dari Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), merasa senang bisa belajar langsung kebudayaan dan bahasa Indonesia dari penutur aslinya.

Menurut gadis 20 tahun itu, program Darmasiswa sangat bermanfaat bagi orang asing seperti dirinya. Apalagi selama dua semester di HUFS dia memang mengambil jurusan bahasa Melayu dan Indonesia.

”Belajar jadi lebih mudah dan orang-orang di sini sangat membantu,” tuturnya. So-yeong dan mahasiswa asing lainnya diajari membatik di atas tas kanvas.

Dengan hati-hati dia menggoreskan lilin tinta ke atas kain. Dia mengakui, seni membatik memang tidak mudah. Bahkan, tidak bisa dilakukan dalam satu sesi yang menghabiskan waktu sekitar dua jam.

Meski demikian, dia tetap semangat untuk menyelesaikan karyanya. Meski belum mahir berbahasa Indonesia, penguasaan kosakata So-yeong cukup banyak.

Program Darmasiswa memotivasinya untuk belajar. Kelak, dia ingin menjadi penerjemah yang menghubungkan orang Korea dan Indonesia.

So-yeong mengungkapkan, keinginan untuk belajar bahasa Indonesia didorong sang ayah. Sebelum memilih jurusan kuliah, ayah So-yeong mengatakan bahwa hubungan Korea dan Indonesia semakin baik.

Banyak perusahaan asal Negeri Ginseng itu yang didirikan di Indonesia. Dengan demikian, bahasa Indonesia semakin laris.

Karena hal itulah, So-yeong tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah diperolehnya untuk belajar bahasa Indonesia dari tempat asalnya.

Selain dirinya, ada 14 mahasiswa Korea lainnya yang mendapatkan kesempatan sama. Saat ini mereka tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Koordinator Nonakademik dan Mahasiswa UK Petra Novielyn Anthonio mengatakan, sejak 2010 universitas di Siwalankerto itu menerima mahasiswa asing yang mendapatkan program Darmasiswa.

Tidak hanya belajar budaya dan bahasa, mahasiswa asing tersebut akan ikut kuliah umum di kampus itu.

’’Nanti ada ujiannya juga bagi mereka. Sementara ini hanya ujian bahasa Indonesia,” terangnya.

Ke depan, para mahasiswa asing tersebut juga akan belajar tentang jenis-jenis masakan Indonesia. Kemudian, diajarkan tentang Chinese-Indonesian culture serta Chinese food.

Selain itu, mereka akan diajak berkeliling Surabaya dan mengenal tempat-tempat bersejarah di Kota Pahlawan ini.

Dosen Program Studi Desain Interior UK Petra Andereas Pandu Setiawan menuturkan bahwa kerajinan tangan yang dipelajari para mahasiswa asing bukan hanya sebagai pengenalan budaya.

Nanti benda-benda yang telah mereka buat itu bisa dibawa ke negara asalnya sebagai oleh-oleh.

”Hari ini (kemarin, Red) mereka membatik di tas kanvas. Tas itu nanti digunakan untuk membawa benda-benda lain yang sudah mereka buat di sini,” terangnya.

Selama mengajar para mahasiswa asing, Pandu diminta menggunakan bahasa Indonesia. Namun, hal tersebut rupanya menyulitkan mereka. Karena itu, Pandu mencampur dengan bahasa Inggris.

”Dengan belajar bahasa Indonesia di sini, kami berharap mereka semakin mahir. Jadi, saat selesai program ini, mereka sudah bisa berbahasa Indonesia dengan lancar,” jelasnya.

Sementara itu, di tangan desainer, batik juga bisa menjelma sebagai wahana kreasi pada kanvas. Itu dibuktikan Yunita Kosasih.

Hasilnya adalah lukisan-lukisan 3D yang dipajang di rumahnya di kawasan Darmo. Ibu dua putra itu membuat hiasan dinding dari kain yang dibentuk dengan cara draping.

Dalam jagat fashion, draping adalah membuat pola kain sebagai pelengkap busana tanpa memotong kain itu.

Di atas kanvas, Yunita terlebih dahulu membuat pola dengan menggunakan pensil. Kemudian, dia memberi shading dengan cat akrilik.

”Itu supaya cantik saja dan membentuk siluet berwarna,” ucapnya.

Setelah itu, barulah dia men-draping kain dengan menggunakan jarum pentul. Lembaran kain dibentuk layaknya sebuah gaun pesta yang anggun dan menawan.

Yunita juga mengombinasikan beberapa jenis kain dengan motif dan bahan beragam. ”Kadang kalau ada kain sisa dan masih matching, ya ikut aku tempelkan,” tambahnya.

Desainer yang sedang mengampanyekan Sarung is My New Denim itu juga menyematkan aksesori seperti kalung bergaya etnik pada lukisannya.

”Awalnya, saya suka membuat ini dari iseng. Karena dasarnya sudah suka ngerancang baju,” tuturnya sambil sesekali membersihkan salah satu lukisan dengan busana batik.

Kini ada dua buah lukisan 3D berukuran besar yang dipajang di ruang tamunya. Yang kecil, seukuran kartu pos, dipajang di meja kerjanya.

Meski hasilnya adalah karya cantik, Yunita mengaku sama sekali tak berniat untuk menjualnya. ”Biar buat hiasan aja ah,” ucapnya, lalu tersenyum.

Source https://www.jawapos.com https://www.jawapos.com/metro/metropolis/29/09/2016/pesona-batik-melanglang-jagat
Comments
Loading...