Persembahan ‘Batik Jawa untuk Dunia’ dari Warga Australia untuk Indonesia

0 108

Persembahan ‘Batik Jawa untuk Dunia’ dari Warga Australia untuk Indonesia

Bukan warga negara Indonesia, bukan pula keturunan Jawa. Tapi Maria Wronska-Friend telah menekuni Batik Jawa selama 30 tahun. Di penghujung tahun 2016 ini, Maria yang sekarang tinggal di Australia meluncurkan ‘Batik Jawa Bagi Dunia’, buku dua bahasa yang ia persembahkan untuk masyarakat Indonesia.

Lahir di kota Lodz, Polandia, Maria Wronska-Friend, adalah antropolog budaya yang telah mempelajari tekstil selama sekitar 3 dekade. Ketertarikannya pada Indonesia, khususnya Batik Jawa dimulai sejak tahun 1970an ketika ia menempuh pendidikan di Universitas Lodz jurusan Antropologi. Uniknya, perhatian Maria terhadap Batik dipicu oleh tradisi yang justru dilakukan di negara asalnya.

Selama 25 tahun terakhir, Maria menetap di Australia untuk mengajar dan menjadi peneliti senior di Universitas James Cook di Cairns, Queensland utara. Pada akhir bulan November 2016, perempuan yang pernah tinggal selama 10 tahun di pedesaan Papua Nugini ini meluncurkan buku berjudul ‘Batik Jawa Bagi Dunia’ atau ‘Javanese Batik To The World’. Buku yang ditulis dalam dua bahasa, yakni Inggris dan Indonesia, ini menceritakan tentang sejarah Batik Jawa dan perjalanannya hingga menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Dikisahkan Maria, sejak akhir abad ke-19, teknik dan motif dan juga keindahan Batik Jawa telah menjadi sumber inspirasi bagi sejumlah produsen tekstil, perancang dan seniman di seluruh dunia. Awalnya, diaspora Batik Jawa dipicu oleh kolonialisme. Pada saat itu, teknik menggambar dengan lilin panas dikenalkan pertama kali sebagai seni dekoratif di Belanda. Tak lama kemudian, Batik menjadi sangat populer di kalangan seniman dan pengrajin Eropa. Menariknya, meski Batik pada zaman itu disesuaikan dengan budaya Barat, di sisi lain ia juga digunakan sebagai perwujudan fantasi dari Timur.

Batik Jawa juga melanglang hingga Afrika. Pengaruhnya terhadap tekstil Afrika merupakan hasil tak langsung dari kolonialiasi Eropa dan dimulai pada akhir abad ke-19, ketika imitasi Batik Jawa yang dicetak di Belanda dan Inggris mulai diperdagangkan di Afrika Barat. Kini, tulis Maria, Batik Jawa telah diterima secara luas oleh masyarakat Afrika dan menjadi bagian yang menyatu dari tradisi dan identitas tekstil Afrika. Teknik melukis kain ala Jawa ini juga masuk ke India di akhir tahun 1920an, ketika penyair Rabindranath Tagore berkunjung ke Pulau Jawa dan Bali.

Ia sangat terpukau dengan budaya Indonesia lalu mengenalkan beberapa di antaranya dalam perkuliahan di Universitas Visva Bharati, Bolpur, India. Yang terbaru, pertemuan Batik Jawa dengan budaya lain terjadi pada era 1970an ketika teknik ini diperkenalkan ke komunitas Aborijin di wilayah gurun Australia.

Ditulisnya buku ‘Batik Jawa Bagi Dunia’ dalam dua Bahasa bukan tanpa sebab. Maria mengaku memiliki misi khusus. Maria kerap prihatin akan betapa generasi muda Indonesia tak banyak yang mengetahui, terlebih lagi mendalami, soal tradisi dan pengaruh Batik Jawa di dunia. Maria juga berharap, masyarakat Indonesia juga tak meninggalkan kain Batik tradisional yang dibuat dengan tangan. 

Source https://www.goodnewsfromindonesia.id/ https://www.goodnewsfromindonesia.id/xhr/render/article/sosial-budaya/sebuah-tradisi-unik-dari-negeri-papua/1482395160/2
Comments
Loading...