Persaingan Batik Jawa Tengah dengan Batik Asal China

0 194

Persaingan Batik Jawa Tengah dengan Batik Asal China

Begitu besarnya potensi industri batik membuat negeri tirai bambu menjadi pemain yang tak bisa diremehkan. Pengusaha dan perajin batik lokal dituntut mampu berinovasi agar tak tersingkir. Saat ini, batik tulis asal Jawa Tengah harus bersaing dengan batik printing asal China yang dipasarkan dengan harga amat murah. Satu kemeja batik asal China dibanderol dengan harga Rp. 45.000. Ini jelas jauh lebih murah dibandingkan batik tulis yang harganya mencapai ratusan ribu rupiah. Selain itu, diversifikasi model dan corak batik Jawa Tengah dinilai masih monoton. Pilihan motif dan warna yang dihasilkan tak seberagam yang diproduksi China.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak tinggal diam saja menghadapi situasi pasar yang memanas. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) Jawa Tengah pun melatih para perajin untuk memperkaya desain batik. Tujuannya, memperkenalkan produk-produk yang lebih “segar” ke pasar. Para pengusaha batik juga diajak bergabung dalam sebuah sistem belanja berbasis online yang sedang dikembangkan Pemerintah Jawa Tengah, yakni Sadewa Market Cyber UMKM. Produk batik dari Jawa Tengah memang memiliki kekhasan motif yang memiliki tempat di hati penggemar batik. Sejumlah pejabat tinggi hingga tokoh internasional pernah terlihat mengenakan batik asal Jawa Tengah, seperti Presiden Joko Widodo yang mengoleksi batik asal Pekalongan. Selain itu, mantan pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela kerap mengenakan kemeja batik lengan panjang dalam pertemuan-pertemuan internasional.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Jawa Tengah Ema Rachmawati mengatakan, besarnya permintaan batik membuat pelaku industri ini terus meningkat. Sejumlah pemerintah daerah menerbitkan aturan kewajiban berbatik bagi aparatur sipil negara. Akibatnya, permintaan batik kian meningkat. Permintaan batik juga sampai ke Jerman dan Amerika. Hingga akhir 2016, kata Ema, ada 1.611 industri kecil menengah dan 11.347 pembatik di Jawa Tengah yang menggeluti bisnis ini. Pemerintah Jawa Tengah, memberikan sertifikat standar kerja nasional kepada para perajin batik. Sertifikasi dilakukan agar ada pengakuan bahwa para perajin merupakan pekerja profesional dalam industri batik.

Hingga kini baru 150 perajin yang mendapatkan sertifikasi. Pemerintah Jawa Tengah menargetkan jumlah perajin yang disertifikasi meningkat setiap tahunnya. Secara terpisah, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap para perajin mampu melahirkan inovasi produksi batik. Ia menyarankan, batik yang diproduksi menunjukkan kekhasan setiap daerah. Selain menambah variasi motif, kekhasan batik tiap daerah menjadi sarana promosi potensi-potensi ekonomi di suatu daerah. Misalnya, pariwisata.

Source http://www.kompas.com/ https://regional.kompas.com/read/2017/10/02/19200001/sengitnya-persaingan-batik-jawa-tengah-dengan-batik-asal-china
Comments
Loading...