Perkembangan Ragam Hias Batik Tahun 1960-1970

0 164

Perkembangan Ragam Hias Batik Tahun 1960-1970

Ragam hias Batik Laweyan, Surakarta tahun 1960-an mengikuti kegiatan kenegaraan. Pada tahun 1963, ketika diselenggarakan Ganefo (pesta olahraga dari kelompok negara-negara komunis dan penentang imperialis-kapitalis), para pengusaha banyak menerima pesanan batik ragam hias Jlamprang dengan warna dasar biru benhur (biru benhur merupakan warna yang sedang digemari pada waktu itu). Ragam hias jlamprang tampak berupa garis-garis yang terkumpul memusat menjadi satu, kemudian terdapat pula ornamen bunga. Jadi motif jlamprang ini merupakan kombinasi antara kumpulan garis yang memusat dan motif bunga dengan susunan teratur yang berselang-seling. Tata warna batik ini disebut kelengan (terdiri dari warna biru dan putih).

Ragam hias Jlamprang ini mengambil dari ragam hias Pekalongan. Motif Jlamprang merupakan perkembangan motif nitik, motif ini terdapat pula sebagai hiasan pada dinding candi Prambanan. Di samping ragam hias jlamprang dibuat pula batik dengan ragam hias variasi, yaitu warna dasar tetap biru benhur, tetapi bermotif bunga mawar, wayang, dan garuda. Makna filosofis dari ketiga motif tersebut menunjukkan ciri dari Indonesia. Pada era Orde Baru mulai tahun 1965 diberlakukan seragam bagi para pegawai negeri dengan batik ragam hias Golkar (Golkar merupakan organisasi massa pada pemerintahan Orde Baru).

Ragam hias ini bermotif pohon beringin dengan sulur-suluran tanaman di sekitarnya. Warna dasar yang digunakan masih biru, akan tetapi biru yang dipakai lebih menjurus ke biru abu-abu. Batik Laweyan, Surakarta pada masa itu mulai mengalami perkembangan. Dari segi motif, mulai lebih bervariasi dan dari segi tata warnanya juga mengalami pergeseran. Warna yang digunakan lebih cerah dan mengambil desain-desain dari daerah lain. Pada masa tahun 1960-an perkembangan ragam hias batik di Laweyan berdasarkan pada kegiatan/ kondisi negara yang bersangkutan.

Source http://lib.unnes.ac.id/2380/1/1535.pdf
Comments
Loading...