Perkembangan Motif Batik Jetis Sidoarjo pada Tahun 1980

0 202

Perkembangan Motif Batik Jetis Sidoarjo pada Tahun 1980

Batik Sidoarjo dilihat dari segi warna tidak begitu mencolok dan cenderung berwarna gelap (cokelat) dan motifnya tidak ada yang memakai binatang. Warna dasar 6 pada tahun 1675 masih menggunakan warna gelap yaitu coklat soga dan pola penggambarannya masih sederhana. Namun, karena konsumen kebanyakan masyarakat Madura yang notabene adalah masyarakat pesisir yang menyukai warna terang dan cerah, maka pengrajin batik Sidoarjo pun mengikuti permintaan tersebut. Sehingga, muncul warna-warna mencolok seperti merah, biru, hitam dan sebagainya. Karena itulah, Sidoarjo juga terkenal dengan batik motif Madura.

Motif yang ada pada tahun 1980an adalah Motif Beras Utah, Kembang Tebu, Kembang Bayem, dan Sekardangan. Motif yang populer pada tahun 1980an adalah Motif Beras Utah dan Kembang Tebu, motif ini populer karena dalam lambang kabupaten Sidoarjo terdapat gambar padi dan tebu yang merupakan hasil bumi yang paling banyak di Sidoarjo. Motif beras utah disajikan dengan serasi antara objek flora yang telah distilasi dengan isen-isen beras utah, tidak ada yang saling mendominasi. Ciri khas Batik Jetis ditunjukkan dengan warna yang berani atau mencolok.

Motif beras utah mempunyai banyak warna, lebih dari tiga warna yang digunakan. Biasanya pembatik menggunakan teknik colet (kuas) untuk membuat warna batik yang lebih bervariasi. Motif Beras Utah merupakan salah satu motif asli Sidoarjo, hal ini menunjukkan bahwa Sidoarjo adalah penghasil beras terbesar. Beras identik dengan makanan pokok masyarakat Sidoarjo. Terdapat beberapa situs yang menunjukkan bahwa Sidoarjo merupakan lumbung pangan, situs Candi Pari, dan tempat penggilingan padi (kini menjadi gedung Ramayana Sidoarjo yang ada di Jalan Gajah Mada). Sidoarjo mempunyai latar belakang agraris karena terletak pada wilayah yang subur, yakni di delta sungai Brantas.

Source Perkembangan Motif Batik Jetis Sidoarjo pada Tahun 1980 Batik
Comments
Loading...