Perkembangan Industri Batik Di Indonesia

0 726

Perkembangan Industri Batik Di Indonesia

Saat ini industri batik yang tidak terlalu terpuruk dan lumayan berkembang adalah Batik Pekalongan. Saat ini industri batik Pekalongan memiliki 2608 unit usaha yang tersebar di Kota Pekalongan sebanyak 608 unit usaha dengan 5.821 tenaga kerja. Dan di Kabupaten Pekalongan sebanyak 2000 unit usaha dengan 10.000 tenaga kerja. Kebanyakan hasil produksi dari industri Pekalongan adalah batik cap dan batik printing. Karena proses produksinya lebih cepat dan harganya tidak terlalu mahal. Sedangkan untuk batik tulis hanya diproduksi berdasarkan pesanan karena proses pembuatan yang lama dan harga yang relatif mahal. Negara yang menjadi pasar tetap produk batik Pekalongan antara lain Malaysia, Jepang dan Timur Tengah. Sedangkan Pasar domestik adalah pasar Bali dan Jakarta. Dan juga kotakota lain di Indonesia.

Selain itu untuk menjaga agar batik tetap menjadi bagian dari masyarakat Pekalongan, seni batik dimasukkan ke dalam kurikulum lokal di sekolah-sekolah menengah agar para pemuda di Pekalongan dapat mengenal batik dengan baik. Sedangkan untuk industri-industri batik yang lain keadaanya tidak terlalu menggembirakan. Bahkan untuk mendapatkan batik tertentu seperti batik Lasem sangat sulit, khususnya batik tulis. Demikian juga dengan batik Yogya dan batik Solo, walaupun tidak separah batik Lasem, tapi produksinya sangat menurun. Pengrajin Batin Yogya dan Solo semakin berkurang. Demikian juga dengan batik-batik yang lain seperti Batik Ciamisan, Batik Banyumas, Batik Indramayu dan Batik Tasik.

Kalaupun ada produksi biasanya berdasarkan pesanan dalam partai kecil dan dititipkan pada pemilik merek terkenal seperti Batik Keris atau Danar Hadi. Industri batik Indonesia pernah mengalami masa jaya yaitu pada tahun 1980-an. Saat itu batik Indonesia mampu menembus pasar luar negeri. Tapi keterbatasan modal membuat sebagian pengrajin tidak dapat memenuhi permintaan apalagi ketika krisis moneter melanda Indonesia, pengrajin batik semakin kesulitan, impor kain dan obatobatan untuk pewarna melonjak tajam. Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) membuat keadaan semakin sulit. Ditambah lagi dengan keamanan yang tidak kondusif seperti bom Bali 1 dan 2.

Source https://media.neliti.com/media/publications/24399-ID-analisis-industri-batik-di-indonesia.pdf
Comments
Loading...