Perkembangan Batik Pekalongan Tahun 1825 – 1830

0 198

Perkembangan Batik Pekalongan Tahun 1825 – 1830

Perkembangan Batik Pekalongan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di Kerajaan Mataram, yang sering disebut dengan Perang Diponegoro atau Perang Jawa. Terjadinya peperangan ini mendesak keluarga keraton serta para pengikutnya, sehingga banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah timur serta barat. Kemudian di daerah-daerah baru tersebut para keluarga serta pengikutnya mengembangkan batik. Ke timur Batik Solo serta Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya, serta Madura. Sedangkan ke arah barat, batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon serta Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota serta daerah Buaran, Pekajangan, serta Wonopringgo (Kabupaten Pekalongan). Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa, seperti Tiongkok, Belanda, Arab, Asia, Melayu serta Jepang pada zaman lampau mampu mewarnai dinamika pada desain dan pola serta tata warna seni batik di Pekalongan.

Beberapa jenis pola batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut kemudian dikenal sebagai identitas Batik Pekalongan. Desain itu, yaitu Batik Jlamprang, diilhami dari Negeri Asia serta Arab. Lalu Batik Encim serta Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Tionghoa. Batik Belanda, Batik Pagi Uncomfortable, serta Batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang. Perkembangan budaya teknik cetak batik tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara itu. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.

Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi Batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, Batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan serta Kabupaten Pekalongan.

Source http://www.liputan6.com/ http://regional.liputan6.com/read/3053596/perjalanan-batik-pekalongan-melintasi-zaman
Comments
Loading...