Perkembangan Batik di Laweyan Surakarta

0 155

Perkembangan Batik di Laweyan Surakarta

Asal mula batik di Laweyan itu sendiri asalnya dari kraton dengan rajanya Pakubuwono II. Mula-mula batik didalam kerajaan/kraton hanya merupakan kerja sambilan bagi putri kraton yang nantinya akan dipersembahkan untuk kekasihnya, juga untuk kepentingan (pakaian) raja dan para kerabat kraton, raja hanya memilih orang-orang pandai membatik yang dikhususkan berdiam di kraton untuk membuat kain batik. Oleh karena raja dan seluruh kerabat kraton sampai ke hulu balang memerlukan kain batik, maka raja mengutus para lurah mencari daerah penghasil batik. Melalui lurah didapat daerah Laweyan. Laweyan sendiri berasal dari kata Lawe yang artinya benang, karena pada zaman dahulu tempat ini adalah tempat pembuatan kain tenun, sehingga raja memilih Laweyan yang dijadikan sebagai penghasil kain batik, karena raja memandang penduduk Laweyan hampir semuanya pandai menenun, rajin dan tekun dalam bekerja.

Pada mulanya penduduk Laweyan membuat batik masih dengan cara tulis (menggunakan tangan saja, dan motif-motifnya pun masih meniru motif dari kraton, berupa Motif Ceplok, Limar, Semen, Parang, Lunglungan), juga cara mewarnainya masih memakai soga Jawa (pewarna dari bahan tumbuhtumbuhan) yang otomatis memerlukan waktu yang lama. Hasilnya nanti diserahkan pada kraton, dan sebagian kecil saja yang disalurkan ke luar, karena masyarakat biasa kurang mampu membeli kain batik yang harganya mahal itu. Pada sekitar awal abad XVIII ditemukan alat cap, yang pada mulanya terbuat dari ketela pohon. Ketela pohon dipotong bulat, kemudian pada permukaannya digambari motif batik, dikarenakan ketela mudah busuk maka cap dari ketela diganti dengan kayu agar lebih awet dan tahan lama.

Tahun 1900-an timbul keinginan pengusaha batik Laweyan, untuk menjual batik kepada rakyat biasa dengan harga yang terjangkau oleh mereka, karena dahulu masyarakat masih memakai kain tenun yang disebut kain lurik, sehingga pengusaha batik Laweyan memproduksi batik tulis dengan batik cap dan juga cara menyoganya dari bahan-bahan kimia, supaya lebih cepat proses pembuatannya, disamping itu juga harganya dapat dijangkau oleh rakyat biasa dan juga tidak meninggakan bentuk aslinya, akan tetapi alat yang untuk mengecap pada waktu itu masih menggunakan cap dari kayu, dengan motifmotif yang masih sangat sederhana sekali yaitu dengan bentuk yang besarbesar dan cecek-ceceknya (isen bulat kecil pada motif batik) pun tak dapat rapih dan halus.

Maka tahun 1905 Bp. Cokro Sumarto pengusaha batik Laweyan sekaligus juga sebagai designer berpendapat kalau dengan kayu kurang efisien lalu dibuatlah cap yang terbuat dari tembaga yang tahan lama. Alat ini disebut canting cap dan batiknya disebut batik cap. Alat tersebut dibuat agar dapat memproduksi dalam jumlah besar dalam waktu yang relatif singkat, tetapi dengan adanya alat-alat yang modern ini bukan berarti lalu Laweyan meninggalkan batik tulis. Bahkan membuat batik tulis, batik cap juga campuran batik cap dan batik tulis. Batik tulis dan batik cap berkembang berdampingan sampai saat ini. Ditinjau dari halus tidaknya, maka batik tulislah yang lebih halus daripada batik cap, sebab batik tulis motif-motifnya lebih hidup, karena dibuat dengan rasa seni atau unsur seni masih ada didalamnya, sedangkan walaupun batik cap prosesnya jauh lebih cepat dari batik tulis, akan tetapi hasil batik cap ini agak berbeda dengan batik tulis.

Dari segi ketepatan pengulangan bentuk canting cap lebih menjamin, akan tetapi dari kesempurnaan goresan kurang baik. Batikan caop sering kali tidak tembus dan kadang-kadang dilain sisi tembus, bahkan blobor. Semakin majunya teknologi, pada sekitar tahun 1960-an ditemukan alat pembuatan batik dengan “printing” atau “sablon” dengan alat cap yang terbuat dari kain yang telah dilukis dan bagian tepinya diberi plangkan (kayu) dengan ukuran lebar 80 cm dan panjang menurut lebar mori/cambric. Batik ini terkenal dengan batik printing. Proses dari pada cara ini lebih cepat dengan kalkulasi yang rendah sebab batik ini tidak memakai cara ngecap dengan malam dahulu, dan tidak juga melered (membabar), akan tetapi mori dicap langsung dengan motif yang dikehendaki.

Source http://lib.unnes.ac.id/2380/1/1535.pdf
Comments
Loading...