Perkembangan Batik di Kabupaten Batang

0 227

Perkembangan Batik di Kabupaten Batang

Perkembangan batik Batang tidak terlepas dari ketrampilan penduduk atau buruh batik serta kebijakan pemerintah dalam menyikapi industri rumahan atau pengrajin yang ada. Berawal dari industri rumahan maka industri batik yang tidak memerlukan padat kerja memberikan peluang kepada ibu-ibu sebagai kerja sampingan. Disebut sebagai industri rumahan karena para saudagar batik tidak membutuhkan tempat yang luas karena proses kerja dapat dapat dilaksanakan dirumah sendiri. Perkampungan yang berdekatan dengan pusat kota dan didukung oleh lingkungan yang memadai seperti tersedianya aliran sungai maka memungkinkan tumbuh dan berkembangnya para saudagar.

Masyarakat kota yang tersebar di Desa Kauman, Proyonanggan, Kasepuhan dan Karangasem telah menempatkan diri di tengah-tengah kehidupan ekonomi marginal berusaha merekrut para ibu-ibu muda dan setengah baya untuk dipekerjakan sebagai pembatik. Tidak ketinggalan pula para laki-laki yang kebetulan sudah berstatus sebagai bapak dipekerjakan dibagian finising atau yang biasa disebut sebagai kuli keceh (bagian proses batik yang berkaitan dengan pewarnaan menyeluruh). Terjadilah hubunga antara saudagar dan buruh yang bersifat kemitraan, sebab tidak jarang para saudagar atau pengrajin lebih cocok mempekerjakan anggota keluarga sendiri dalam memperlancar arus dan proses produksi.

Batik Batang masih menganut tata ekonomi tradisional, hal ini terbukti ketika etika pasar dibentuk maka yang terjalin adalah mata rantai keluarga yang terdiri dari produsen, pedagang, pengumpul dan konsumen secara umum masih ada ikatan persaudaraan. Mereka membentuk kebersamaan yang saling bergantung dengan mengikuti prinsip-prinsip etika dan agama. Hubungan antara produsen dan konsumen atau penjual dan pembeli berjalan tidak lebih sebagai hubungan antara penjaja dan raja. Mereka saling membantu dan mendapatkan keuntungan dalam arti yang lebih menekankan pemanfaatan daripada yang bersifat pengumpulan kekayaan indifidu.

Perkembangan batik juga diramaikan oleh pengrajin awal yang mulai tumbuh sebagai produsen dan juga bertindak sebagai penjaja (pemasar). Mata rantai pemasaran biasanya berujung ditangan konsumen pengumpul atau kelompok pemasar perantara. Sebagaimana halnya seperti putaran jarum jam, pengaturan waktu bukan dijadikan sebagai pedoman untuk menciptakan nilai ekonomi melainkan lebih berdasar pada produktifitas yang meletakkan pelaku hemat dan rajin. Prinsip cukup beralasan karena upah yang diterima buruh batik tidak sebanding dengan waktu yang dikorbankan, tetapi tidak terjadi tawar-menawar.

Adanya kelompok pemasaran penuh di Batang, maka batik berfungsi sebagai barang komoditi yang bersifat ekonomis. Kelompok pemasaran dibentuk berdasarkan prinsip etika tradisional yang diselimuti dengan semangat keagamaan yang mendalam, maka perkembangan selanjutnya saudagar batik banyak didominasi oleh kelompok muslim. Batang sendiri sebetulnya juga banyak saudagar batik dari etnis Cina namun karena butuh profesi didominasi lapisan bawah maka sistem perburuhan yang diterapkan tidak pernah menghambat perkembangan batik pada khususnya di Kabupaten Batang. Sentra pembatikan kemudian menyebar ke beberapa wilayah kecamatan yang berdekatan dengan kecamatan kota misalnya kecamatan Warungasem, Bandar dan Gringsing.

Source Perkembangan Batik di Kabupaten Batang Batik
Comments
Loading...