Perkembangan Batik Bayat

0 56

Perkembangan Batik Bayat

Batik Bayat mengalami masa keemasan pada era tahun 60-an dan mulai mengalami kemerosotan pada tahun 70-an setelah mulai digunakannya teknik printing atau sablon yang dapat memproduksi lebih cepat dan murah. Desa-desa penghasil batik seperti Beluk dan Paseban yang sangat terkenal dengan batik halusnya perlahan namun pasti mulai kehilangan para pengrajin batiknya yang lebih suka pindah ke kota seperti Yogyakarta dan Jakarta, atau alih profesi menjadi buruh bangunan, bertani atau berdagang.

Pada era tahun 80-an Batik Bayat mulai berkembang dimulai dari Desa Jarum. Berawal dari para pemuda yang bekerja di galeri-galeri lukisan batik di Yogyakarta. Melihat tingginya permintaan lukisan batik dan kurangnya pasokan, mendorong para pemuda untuk pulang kembali dan mulai memproduksi sendiri lukisan batik yang kemudian mereka jual ke Yogyakarta. Sebuah perubahan yang baik dari hanya pegawai menjadi produsen. Maka tidaklah mengherankan jika motif batik yang dihasilkan oleh daerah jarum bermotif modern, bebas dengan warna-warnanya yang cerah.

Walaupun sudah banyak modifikasi Batik Bayat secara kontemporer, Batik Bayat juga masih mempunyai motif khas, seperti Gajah Birowo, Pintu Retno, Parang Liris, Babon Angrem, dan Mukti Wirasat. Semua Motif Batik Bayat ini dominan dengan warna soga atau kecoklatan yang identik dengan warna Batik Kasunanan Surakarta. Selain itu Batik Bayat juga berusaha melestarikan batik dengan mengembangkan Batik Bayat motif cagar budaya yaitu mengenalkan motif-motif yang diinspirasi dari objek Cagar Budaya, salah satu diantaranya diadopsi dari motif ragam hias yang ditemukan pada relief Candi. Daerah Bayat yang secara kultural tidak jauh dari kawasan candi-candi di Prambanan dan sekitarnya, dari beberapa relief seperti misalnya Pohon Kalpataru dan Kinara-Kinari yang ditemukan di Kompleks Candi Lara Jonggrang, Prambanan.

Source https://fitinline.com/ https://fitinline.com/article/read/batik-bayat-klaten
Comments
Loading...