Perajin Batik Cianjur Kelimpungan

0 55

Perajin Batik Cianjur Kelimpungan

Para perajin Batik Cianjuran di Kabupaten Cianjur kelimpungan karena stok pewarna dan malam (lilin) untuk membatik terus berkurang. Selama dua pekan terakhir, pasokan dua bahan baku dari Pekalongan, Jawa Tengah, itu sangat minim, bahkan tidak ada. Ahmad Fikri yang merupakan pemilik bengkel Batik Cipandawa di Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, mengaku baru mulai berproduksi kembali. Dia mengaku beruntung mendapat pasokan bahan baku pewarna dan malam untuk batik cap dan tulisnya dari Tasikmalaya. “Ini kelangkaan paling baru. Sebelumnya, kelangkaan seperti ini juga sering terjadi. Saya awalnya berpikir ada permainan harga terkait kelangkaan bahan baku ini, tetapi kemarin di Tasikmalaya, harganya sama dengan di Pekalongan,” ujarnya di Nagrak.

Akibat produksi batik yang terhenti itu, kepercayaan pelanggan terhadapnya sedikit berkurang meski mereka tidak membatalkan pesanan. Jika terjadi kelangkaan bahan baku, kata dia, dari tenggat waktu seminggu pengerjaan 50 potong baju, pesanan tersebut baru selesai dalam tiga minggu. Padahal, jika stok pewarna dan lilin normal, dalam sebulan Batik Cipandawa bisa menghasilkan 150 potong baju batik. Untuk menyiasati kelangkaan malam itu, Fikri memanfaatkan ampas malam hasil godokan pertama. Ampas malam yang sudah mengeras dibersihkan bagian yang kotornya. Eliana Trisnawati yang juga perajin batik di Kecamatan Warungkondang, menuturkan hal senada. Sebagai perajin dengan kategori usaha mikro kecil menengah (UMKM), ia sulit untuk menyetok lilin dan pewarna dalam jumlah besar. “Kami baru bisa beli bahan baku kalau ada yang memesan. Tetapi, sekali beli, kan, perlu waktu lama dan tidak setiap beli, bahan bakunya tersedia di Pekalongan,” ujarnya. Kain bisa dibeli di Bandung karena tidak sedikit pedagang kain untuk batik di kota tersebut. Eli mengeluarkan Rp 15 juta sekali belanja. Dengan uang sebesar itu, dia mendapat 1.500 yard kain (1 yard = 0,9144 meter).

Kelemahan di Cianjur, pebatik makin banyak, tetapi tidak ada paguyuban yang memfasilitasi agar pebatik mudah mendapat bahan baku, khususnya pewarna alami dan lilin. Kalau belanja langsung ke Pekalongan, selain ongkos mahal, kendalanya menunggu stok di Pekalongan ada. Kini, harga jual satu lembar batik Cianjuran atau berukuran 2 meter x 115 sentimeter dengan kualitas medium Rp. 80 ribu. Perajin–perajin batik bermotif beras pandanwangi khas Cianjur tersebut berharap Pemerintah Kabupaten Cianjur memperhatikan kebutuhan mereka akan adanya paguyuban yang menyediakan bahan baku batik dalam jumlah yang cukup agar kegiatan membatik bisa terus berjalan.

Source http://disperindag.jabarprov.go.id/ http://disperindag.jabarprov.go.id/news/detail/eksternal/2016/05/30:10:59508c75c8507a2ae5223dfd2faeb98122
Comments
Loading...