Pengaruh Kerajaan Tarumanegara Terhadap Batik

0 112

Pengaruh Kerajaan Tarumanegara Terhadap Batik

Dilihat dari peninggalan-peninggalan yang ada sekarang dan cerita-cerita turun-temurun, yang diperkirakan terjadi di daerah Tasikmalaya batik sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Tarumanegara. Kemungkinan pohon tarum yang banyak terdapat di sana dimanfaatkan untuk pembuatan batik kala itu. Akhirnya batik mulai berkembang ke luar Jawa pun batik juga berkembang, termasuk ke daerah Sumatera Barat. Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum Perang Dunia I, terutama batik-batik produksi Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta.

Meskipun di Sumatera Barat telah berkembang terlebih dahulu industri tenun tangan “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”, namun batik tetap digemari masyarakat setempat. Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah pendudukan Jepang. Pengembangannya terjadi secara tidak disengaja. Ketika itu akibat blokade Belanda, perdagangan batik menjadi lesu. Karenanya pedagang-pedagang batik yang biasa berhubungan dengan pulau Jawa mencari jalan untuk membuat batik sendiri. Ciri khas dari Batik Padang adalah kebanyakan berwarna hitam, kuning, dan merah ungu dengan pola Banyumasan, Indramayuan, Solo, dan Yogyakarta.

Di antara berjenis-jenis batik, tidak dimungkiri kalau yang paling populer sampai sekarang adalah Batik Pekalongan. Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu, dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik. Ada beberapa jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut yang kemudian dikenal sebagai jati diri Batik Pekalongan. Motif Jlamprang, umpamanya, merupakan ilham dari India dan Arab. Lalu Batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina. Batik Belanda (disebut juga Batik VOC atau Batik Kompeni), Batik Pagi Sore, dan Batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.

Sebagai pakaian adat yang dulu banyak dipakai kalangan keraton, tentu saja batik sudah mempunyai motif baku yang penuh filosofi. Pada dasarnya ragam hias batik yang bercirikan tradisional adalah pola geometrik (Ceplokan, Pola Hias Kawung, Nitik, Lereng, Parang, dll) dan pola non-geometrik (Sidaluhur, Sidamukti, Semen Rama, dan lai-lain). Pada zaman dahulu pakaian batik menunjukkan status sosial. Selain itu banyak dipakai untuk upacara daur hidup. Namun dalam perkembangan selanjutnya batik berubah menjadi kain hiasan, artinya tidak digunakan semata-mata untuk pakaian tetapi juga untuk seprei, taplak meja, sarung kursi, dan sebagainya.

Pada pertengahan 2009 Departemen Arkeologi UI diundang oleh Walikota Pekalongan untuk berkunjung ke Museum Batik di sana. Maksudnya agar Tim Arkeologi UI bisa memberikan masukan untuk pengembangan batik di museum tersebut. Di antara kegiatan itu tim UI sempat mengunjungi pengrajin batik terkenal di masa lalu, yakni seorang pioner batik peranakan. Ironisnya, saat ini tinggal cucunya seorang diri yang mengembangkan batik tersebut. Lainnya sudah gulung tikar atau alih profesi. Cucunya ini masih bertahan hanya karena ingin mempertahankan kehidupan para pengrajin yang sudah lama ikut dengan kakeknya dulu.

Pada dasarnya batik dibedakan atas dua macam berdasarkan lokasinya, yakni batik pesisiran dan batik pedalaman. Batik pesisiran lebih berkembang karena banyak mendapat pengaruh dari luar. Dari teknik pembuatannya dikenal beberapa jenis batik, yaitu batik simbut, batik tulis, batik cap, batik printing, batik prada, dan batik campuran.

Source https://hurahura.wordpress.com/ https://hurahura.wordpress.com/2010/11/14/sejarah-batik/
Comments
Loading...