Pengaruh Batik Tulungagung dan Daerah Mentaraman Lain

0 268

Pengaruh Batik Tulungagung dan Daerah Mentaraman Lain

Daerah Mentaraman adalah suatu wilayah yang dulunya di bawah kekuasaan Kesultanan Mataran. Setelah adanya perjanjian Giyanti, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kesultanan Surakarta dan Yogyakarta. Meliputi wilayah Tulungagung, Blitar, Kediri, Nganjuk, Mojokerto, Sioardjo, Madiun dan Ponorogo. Batik Tulungagung juga mendapatkan pengaruh Batik Keraton ketika pengikut Pangeran Diponogoro menyingkir ke Jawa Timur ketika terpukul serangan pasukan Belanda. Kyai Mojo menetap di suatu desa di kawasan Tulungagung yang kemudian disebut sebagai desa Maja yang beartitempat tinggal Kyai Mojo. Selain itu pengikutnya juga tinggal di desa Simo. Kedua desa itu, hingga kini dikenal sebagai desa yang memiliki sejarah pembatikan klasik dengan gaya pembatikan batik Keraton.

Sementara batik khas Tulungagung yang telah ada sejak zaman Majapahit adalah di Desa Kalangbret Kecamatan Kauman. Salah satu batik Kalangbret yang terkena dan terbawa ke Keraton Mataram adalah batik motif Cuwiri yang asal idenya dari tragedy pembunuhan Adipati Kalang oleh tentara Majapahit. Perkembangan batik di daerah Mentaraman memang bermula dari perkembangan batik Keraton Mataram yang menyebar di daerah Jawa Timur yang memiliki kesamaan cita rasa dengan daerah Keraton Mataram. Batik Mentaraman yang jelas pengaruh batik Keraton terlihat pada motif Wahyu Tumurun yang ada di Tulungagung dan Tubun. Motif ini memiliki perbedaan dengan Wahyu Tumurunnya Solo dan Yogya, karena babarab Tulungagung memiliki latar ireng (Hitam), sementara yang dari Solo dan Yogya dengan latar putih serta memiliki isen-isen yang lebih padat (Lintoe Tulistyantoro 2011). Namun, Wahyu Tumurun ini sama-sama memiliki ragam hias, diantaranya ornament pohon hayat, meru, tetumbuhan dan burung.

Selain itu, Motif Rawan juga diduga keras justru yang memiliki daerah berawa-rawa. Dahulu kala daerah Tulungagung bernama Bonoromo, berasal dari dua kata “beno” yang artinya banjir, dan “rowo”. Disitu ada suatu daerah yang sangat luas meliputi lebih dari satu desa yang selalu terendam banjir di kala musum penghujan karena luapan Rawa Campur. Di situlah para pembatik yang memandangi kilauan permukaan air rawa yang memantulkan cahaya matahari membentuk riak-riak air yang mengilhami motif garis-garis isen yang diberi nama rawan (dari kata rowo-an = rawan).

Motif Gringsing juga berkembang di Mentaraman, jelas-jelas merupakan pengembangan Gringsing Keraton Mataram dengan filosofinya yang sangat kuat, bahkan di Jawa Timur ornament isen-isen gringsing ini berkembang variannya menjadi Sisik Gringsing, Moto Doro (Sidoardjo), Moto Klungsu (Mojokerto, Trenggalek) dan sebagainya. Di daerah Tulungagung juga terdapat Motif Sidomukti, salah satu Batik Keraton yang sangat popular. Selanjutnya, Sidomukti ala Jawa Timuran ini berkembang dengan berbagai ide penggunaan ornament-ornamen baru tetapi tetap mengacu pada bentuk pokok dari Motif Sidomukti.

Sidoarjo juga merupakan daerah batik yang kuat dan berkarakter. Pada papan petunjuk yang terpasang di depan gang menuju Kampung Jetis, tentara bahwa kampong batik tersebut telah ada sejak tahun 1675, Batik Sidoarjo juga ada di daerah Sekardangan yang berjarak sekitar 5 km dari Jetis. Pengaruh batik keraton juga sangat jelas terlihat, bahkan hingga kini. Batik Klasik yang dipertahankan di daerah ini tetap memliki pangsa pasar sebagai batik yang berfilosofi. 

Source Pengaruh Batik Tulungagung dan Daerah Mentaraman Lain Batik
Comments
Loading...