Parade Batik Kekinian Tutup PIFW 2018

0 38

Parade batik kekinian tutup PIFW 2018

Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) baru saja usai pada Jumat. Selama lima hari, acara yang diselenggarakan di The Warehouse, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, ini menghadirkan 22 desainer lokal dan 1 label kelas dunia yang menampilkan kreasi mereka pada 19 peragaan busana.

Mengusung tema Kain, para desainer beraksi tampilkan koleksi wastra Nusantara dengan ciri khasnya masing-masing. Beberapa nama tak segan hadirkan batik dengan gaya modern dan siluet nan unik untuk menutup pagelaran tersebut.

Parang Kencana x Wilsen Willim

Parang Kencana dikenal sebagai salah satu label batik yang tak ragu berkreasi dengan potongan bergaya modern. Di PIFW, sekali lagi rumah mode yang berdiri pada 1992 ini membuktikannya. Kali ini Parang kencana berkolaborasi dengan perancang muda yang kerap menampilkan koleksi eksperimental, Wilsen Willim.

Di panggung PIFW keduanya sukses tampilkan sekitar 20 busana bermaterial batik yang dikawinkan dengan gaya grunge ala 80-an.

Uniknya, tak seperti gaya busana khas grunge pada umumnya yang terkesan urakan, Parang Kencana dan Wilsen Willim justru menawarkan padu padan yang terkesan lebih rapi dan maskulin. Keduanya banyak bermain dengan jas dan mantel ala Eropa bercorak batik dengan warna biru tua, abu-abu, hitam, dan putih yang lalu dipadupadankan dengan rok berbahan tipis sebagai aksen.

Populo

Bila Parang Kencana dan Wilsen Willim bereksperimen dengan gaya maskulin, Populo justru menawarkan sebaliknya.

Sederet koleksi busana feminin bernuansa biru muda dengan detail bentuk gelombang ini sebenarnya mirip dengan yang ditampilkan pada Amazon Tokyo Fashion Week, Jepang, tahun lalu. Bedanya, kali ini label yang pernah meluncurkan batik ala film Black Panther ini menawarkan koleksi khusus untuk para perempuan.

Mengadopsi inspirasi dari budaya Tibet, Populo hadir mengusung tema Purity yang menggambarkan keadaan alam berupa gunung, air dan penduduk di dataran Tibet.

Alleira x Rama Dauhan

Alleira yang dikenal akan koleksi batik klasiknya kali ini pun rela keluar dari zona nyamannya. Bersama perancang Rama Dauhan, rumah mode yang sudah eksis selama 13 tahun ini tampilkan 20 padu padan busana dengan warna-warni berani.

“Konsepnya adalah bagaimana desain Rama Dauhan yang muda banget dikawinkan dengan Alleira yang klasik,” jelas Rama Dauhan pada konferensi persnya di Immigrant, Plaza Indonesia, Jakarta.

Mengusung tajuk Punika, keduanya menawarkan pilihan baru dalam berbatik. Ada gaun bermodel kemeja, atasan asimetris dengan detail gelombang, rok balon, serta gaun panjang dengan detail batik di sana-sini.

Penggunaan batiknya memang tak menyeluruh. Didominasi warna ungu, oranye, coklat, dan hitam, Anda bisa menemukan beberapa motif seperti parang hingga motif tujuh rupa pada satu busana sekaligus. Kesan muda pun bertambah dengan pemakaian sepatu kasual bermerek Vans pada setiap model.

Barli

Berbeda dari beberapa desainer yang tampil dengan gaya kasual dan semi-formal, Barli justru hadir dengan sederet gaun nan mewah.

Batiknya pun bukan motif khas Jawa, belakangan ini Barli lebih senang mengolah batik hasil karya para pengrajin di Jambi.

“Aku sengaja pilih Batik Jambi biar orang tahu bahwa (pengrajin) batik yang hidden juga hasilnya baik,” jelas Barli kepada Kumparan.

Pada koleksinya kali ini Barli membawakan busana bermodel gaun panjang dengan aksen bulu yang romantis, gaun beraksen tumpuk nan dramatis, hingga terusan celana berpipa lebar (palazzo). Kesemuanya didominasi warna putih dan biru lembut khas Barli.

Source https://beritagar.id https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/parade-batik-kekinian-tutup-pifw-2018
Comments
Loading...