Oey Soe Tjoen Menjaga Kelestarian Legenda Batik Pekalongan

0 80

Produk batik Pekalongan yang begitu terkenal, yakni batik tulis Oey Soe Tjoen. Batik legendaris yang memiliki kualitas ciamik. Terkenal dengan keindahan dan kelembutan besutan batiknya. Harganya pun sangat fantastis. Konon harga satu batik tulis Oey Soe Tjoen bisa mencapai harga di atas Rp 350 juta. Khususnya batik tulis Oey Soe Tjoen klasik yang dibuat pada tahun 1930 an.

Batik Oey Soe Tjoen berdiri pada 1925. Saat itu  Oey muda memutuskan keluar dari garis usaha keluarga yang memproduksi batik cetak. Bersama Kwee Tjoen Giok Nio, istrinya, ia merintis batik tulis. Merintis usaha di sebuah rumah di Jalan Raya Kedungwuni Nomor 104, Kabupaten Pekalongan, hingga kini.

Oey menggarap motif tradisional khas pantai utara seperti motif pagi sore, merak, pringgodani, dan bunga bungaan, diantaranya bunga mawar, seruni, tulip, lotus dan anggrek. Motif tersebut dibuat sesempurna mungkin mendekati gambar aslinya, dengan melibatkan pembatik profesional dan mereka dibayar sangat mahal, di atas rata-rata pembatik yang ada di Kabupaten Pekalongan.

Batik Oey Soe Tjoen dikerjakan dengan proses berjenjang dan sangat teliti. Seorang pekerja khusus menggarap motif daun saja, ada pekerja yang khusus hanya membuat tanahan saja, atau membuat titik-titik yang sangat kecil, dengan ukuran 0,01 milimeter. Dan itu dikerjakan secara bolak baik dengan ketepatan yang sama.

Pada tahun 1930 batik Oey Soe Tjoen hanya dikenal kalangan atas saja. Kebanyakan orang kaya dari Belanda atau Eropa. Bahkan bangsawan atau orang kaya Jawa, saat itu pun memakai Batik Oey Soe Tjoen. Namun motifnya beda, karena kain bangsawan Jawa tidak mau mengenakan Batik Oey Soe Tjoen yang sama dengan kaum Belanda, maka dibuatlan Batik Oey Soe Tjoen dengan motif Cuwiri, yakni motif yang khusus hanya untuk bangsawan Jawa. Hingga kini motif itu masih dipertahankan.

Usaha Oey makin terang ketika karyanya juga digemari saudagar Kudus, Magelang, dan beberapa daerah lain di pulau Jawa, diantaranya pengusaha rokok dan tembakau. Karena kain Batik Oey Soe Tjoen sempat menjadi mas kawin wajib sejumlah pengusaha Cina saat itu.

Menurut Oey Kiem Lian atau Widianti Widjaja generasi ke-3 keluarga Oey Soe Tjoen, penerus batik Oey Soe Tjoen saat ini, pecinta batik lokal berdarah Indonesia-Eropa saat itu tahun 1930 an, yakni Van Zuylen bersama istrinya, Eliza van Zuylen, mempunyai andil membesarkan batik Oey. Pegawai Belanda di Pekalongan itu, memperkenalkan warna baru selain merah dan biru, yakni warna klasik yang menjadi identitas batik tradisional Pekalongan.

Berkat jasa Zuylen pula, batik Oey Soe Tjoen akhirnya dikenal pengusaha mancanegara. Setiap bulan ada saja pemesan dari Eropa, Amerika, atau Jepang. Batik Oey juga masuk katalog karya seni yang patut dimiliki di Belanda. Selain merespon selera Barat, Oey mampu memenuhi hasrat orang Jepang. Hingga saat ini pesanan dari Amerika dan Eropa masih berjalan.

“Generasi pertama batik Oey Soe Tjoen juga membuat batik Hokokai khas Negeri Matahari Terbit itu dengan motif merak, bunga, dan kuku dengan memasukkan semua warna. Kami kategorikan pada batik klasik yang diproduksi pada tahun 1930 hingga 1950 an,” jelas Widianti Widjaja, di ruko bercat kuning di Jalan Raya Kedungwuni Nomor 104, Kabupaten Pekalongan, Selasa.

Widianti Widjaja mengatakan bahwa produksi batik Oey Soe Tjoen mulai menurun pada 1980 hingga kini, setelah usaha beralih ke generasi kedua, yakni Koey Kam Long. Disebabkan banyak produk tiruan hingga membunuh usaha keluarganya, yakni batik tiruan yang dikerjakan dengan sablon atau printing.

Kegetiran generasi Oey Soe Tjoen ini kian parah, tatkala bom mengguncang Bali pada 2002. Saat itu sejumlah turis asing membatalkan pesanan. Apalagi, ada juga rumor bahwa batik Oey Soe Tjoen berhenti berproduksi.

“Kini produksi kain batik Oey Soe Tjoen sangat terbatas. Produksi kami memerlukan waktu lama, rata-rata satu lembar kain batik Oey Soe Tjoen dikerjakan dua hingga tiga tahun, bahkan ada satu kain batik Oey Soe Tjoen dikerjakan selama tujuh tahun, karena tenaga kerja pembatik kami terbatas, hanya 15 orang pekerja saja, itu usia mereka sudah di atas 50 tahun,” kata Widianti.

Harga tiap helai batik Oey Soe Tjoen bervariasi, mulai dari harga Rp 25 juta per lembar. Dengan omzet sekecil itu, Batik Oey Soe Tjoen tak dapat lagi diandalkan menopang ekonomi keluarga. Kini membatik hanya merupakan kerja sampingan bagi Widianti. Namun semangat membatik dan mempertahankan batik Oey Soe Tjoen tetap membara. 

Source https://radarsemarang.com https://radarsemarang.com/2018/03/28/oey-soe-tjoen-menjaga-kelestarian-legenda-batik-pekalongan/
Comments
Loading...