Nurohmad Sulap Kertas Limbah Jadi Alat Membatik

0 57

Nurohmad Sulap Kertas Limbah Jadi Alat Membatik

Hanya bermodal kertas limbah seperti bungkus rokok, kardus obat, kardus susu, dan bekas kardus makanan, Nurohmad berkreasi membuat alat batik cap. Rumahnya di Pedukuhan Sawit RT 02, Desa Panggungharjo Sewon Bantul dijadikan laboratorium batik, bagi pelajar dan masyarakat umum yang ingin belajar membuat alat tersebut. Ide menciptakan teknologi tepat guna berbahan baku kertas bekas itu, muncul sejak akhir tahun 2016 lalu. Selain untuk mengurangi sampah, harga alat batik cap berbahan tembaga juga masih terbilang mahal.       

Awalnya ia merasa gelisah, melihat banyak sampah kertas terbuang sia-sia, lalu atas inisiatif pribadi, anak-anak sekolah di kampungnya dari murid-murid sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA), diajari membatik di rumahnya secara gratis. Setiap kali belajar, mereka diminta mengumpulkan sampah kertas, sebagian dijual ke Rumah Pengolahan Sampah (RPS) di sekitar desa, sedangkan kertas limbah yang bisa diolah, dibuat alat batik cap. Uang yang terkumpul, digunakan membeli peralatan membatik seperti kain dan malam

Melalui hasil kreatifitasnya itu, ia ingin menghapus kesan jika membatik merupakan aktivitas yang sulit dan mahal. Ibarat pepatah ”Tak Kenal Maka Tak Sayang”, masyarakat perlu dikenalkan pada batik cap, yang pembuatannya tidak serumit batik tulis. Hal tersebut penting dilakukan, agar budaya adiluhung warisan nenek moyang itu, tidak hilang ditelan waktu. Nur menjelaskan, jenis kertas tertentu seperti kertas koran, tidak bisa diolah menjadi alat batik cap, karena bahan baku yang dibutuhkan harus tahan panas, dan bisa menyerap malam (lilin untuk membatik, red) cair. Jika kualitas kertas bagus, seperti kertas bekas bungkus rokok, alat cap bisa dipakai hingga 500 kali.  

Butuh waktu satu jam hingga sehari penuh, merangkai kertas limbah menjadi alat membatik. Kertas yang akan digunakan dipotong sesuai ukuran dan bentuk, lalu ditempel dalam posisi berdiri menggunakan lem, pada selembar karton yang sudah digambari pola dasar menggunakan pensil. Ketika semua terangkai, bagian belakang karton direkatkan pada papan kayu, yang sudah diberi dua papan penyangga, untuk memasang sebilah kayu sebagai pegangan tangan pembatik. Kini, sudah puluhan motif alat batik cap berhasil dibuat, ukurannya pun bervariasi, paling besar 20×20 cm. 

Fitri Andonowarih usia 21 tahun, mengaku kesulitan saat pertama kali belajar membuat alat batik cap dari kertas limbah. Namun mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta itu merasa tertantang, karena ini hal baru baginya. 

Source http://rri.co.id http://rri.co.id/post/berita/373713/feature/nurohmad_sulap_kertas_limbah_jadi_alat_membatik.html
Comments
Loading...