Muasal Batik Sendang Lamongan

0 178

Muasal Batik Sendang Lamongan

Batik Sendang Lamongan dinilai memiliki eksotisme tersendiri dibanding batik tulis pada umumnya. Hal ini karena ekspresi yang terpancar dari guratan BSL memadukan pengaruh klasik Majapahit, nilai Islam dan perkembanga motif kekinian secara harmonis. Secara historis, pembatik di Desa Sendang memiliki keterampilan alamiah turun temurun yang terpelihara sejak zaman kerajaan Majapahit, Demak, Giri Kedaton sampai kini, sehingga dari ‘doeloe’ perempuan Sendang dikenal berjemari lentik dan berkulit putih bersih karena jarang terpapar sinar matahari di luar rumah. Dari merekalah batik-batik terbaik dikerjakan kemudian beredar di kalangan bangsawan kerajaan, pejabat-birokrat, kelas menengah ke atas dan seterusnya hingga digunakan masyarakat luas dari semua kalangan pada hari ini.

Setelah Batik Sendang sudah banyak dikenal orang seperti sekarang, kemudian muncul pertanyaan, bagaimana muasalnya? Keterangan paling banyak menyebut keberadaan Batik Sendang Lamongan dalam khazanah batik nusantara tidak lepas dari keturuan raja Majapahit yang dikenal dengan Raden Nur Rahmat sekitar 500 tahun lalu. Ayahnya adalah  Syekh Abdul Qohar bin Malik bin Syeikh Abu Yazid Al-Baghdadi sedangkan ibunya Dewi Sukarsih, putri Tumenggung Sedayu Joyo Sasmitro, keturunan Prabu Brawijaya. Dari jalur ibu inilah Nur Rahmad mendapatkan gelar raden sebagaimana bangsawan pada umumnya zaman itu. Raden Nur Rahmad akhirnya menikah dengan seorang putri dari Kudus, yaitu Raden Ayu Tilaresih, putri Pangerang Ngrenget yang keluarga Kesultanan Demak yang juga berasal dari keturunan Prabu Brawijaya melalui Raden Fattah atau sultan pertama Kerajaan Demak Bintoro. Raden Ayu Tilaresi sejak kecil dikenal dekat dengan bibinya, yaitu Ratu Kalinyamat yang terkenal dengan sebutan Mbok Rondo Mantingan yang masih cucu Raden Fattah.

Pada suatu hari saat dakwah makin berkembang luas, Sunan Sendang mendapat hadiah sebuah ‘masjid berukir’ dari Ratu Kalinyamat dan Sang Ratu pun berkenan ke Sendang untuk melihat masjid yang sudah terpasang kembali di atas bukit Amintuno hanya dalam satu malam. Dalam kunjungan tersebut Ratu Kalinyamat mengenakan kain batik motif kawung yang elok sampai-sampai mengundang penduduk berdecak terkagum-kagum.

Atas kekaguman tersebut Raden Ayu Tilaresih yang memiliki keterampilan membatik itu kemudian mengajarkan penduduk tentang seni membatik. Keterampilan Raden Ayu Tilaresih ini didapat kerana masa remajanya dihabiskan di sekitar Kudus-Jepara dan sebagimana para putri pada umumnya, ia juga belajar membatik hingga mahir. Berdasarkan kisah yang terpelihara di masyarakat, Raden Ayu Tilaresih kemudian dianggap sebagai pioner dari cikal-bakal tradisi membatik di Sendang. Penduduk sangat antusias belajar membatik sebagai keterampilan tambahan yang dikerjakan sambil menjadi ibu rumah tangga. Sejak itu penduduk Sendang menjadi ‘orang rumahan’ atau pekerja ‘in door’ karena para lelakinya sebagai pengrajin emas di ‘besali’ di samping atau depan rumah, sementara para perempuannya sebagai pembatik di dapur bagian belakang ruma

Source http://sendangagung-lamongan.desa.id/ http://sendangagung-lamongan.desa.id/2017/10/04/muasal-batik-sendang-lamongan/
Comments
Loading...